Latest Entries »


Al-Imam Abu ‘Amr bin Ash-Shalaah telah menghikayatkan dari Abu Muhammad bin Abi Zaid, seorang imam madzhab Malikiyyah dalam jamannya, bahwasannya ia berkata : جماعُ آداب الخير وأزمته تتفرَّعُ من أربعة أحاديث : قول النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مَنْ كَانَ يُؤمنُ باللهِ واليومِ الآخر فليَقُلْ خيراً أو ليَصْمُتْ )) ، وقوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مِنْ حُسْنِ إسلامِ المَرءِ تَركُهُ ما لا يَعْنِيهِ )) ، وقوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ للذي اختصر له في الوصية : (( لا تَغْضَبْ )) ، وقوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( المُؤْمِنُ يُحبُّ لأخيه ما يُحبُّ لنفسه )) “Puncak permasalahan adab/etika bermuara pada empat macam hadits : 1. Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam’. 2. Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Di antara kebaikan seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya’. 3. Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang diberi wasiat/nasihat secara ringkas :‘Jangan marah’. 4. Dan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Orang mukmin itu mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri’


Hak-hak Isteri (Kewajiban Suami) Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya.” [QS. An-Nisaa’ : 34] “Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” [Al-Baqarah: 228] * Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Sesungguhnya aku berhias diri untuk isteriku sebagaimana ia menghias diri untukku.”[ Ibnu Jarir (II/453). ] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : َّا. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian juga memiliki hak atas kalian.”[ Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1501)], Sunan at-Tirmidzi (II/315, no. 1173), Sunan Ibni Majah (I/594, no. 1851) ] ” Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada-nya.” [QS. An-Nisaa’ : 19] “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233) Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz ( meninggalkan kewajibannya selaku isteri, seperti meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya, dan lainnya )nya, maka nasihatilah mereka dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak menyakitkan). Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” [An-Nisaa: 34] –> Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218 (147)), dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.] Aisyah menceritahkan mengenai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku tidaklah pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul pembantu, begitu pula memukul istrinya. Beliau tidaklah pernah memukul sesuatu dengan tangannya kecuali dalam jihad (berperang) di jalan Allah”. (HR. Ahmad 6: 229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada sebagian Shahabat yang memukul isterinya, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Namun ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu mengadukan atas bertambah beraninya wanita-wanita yang nusyuz (durhaka kepada suaminya), sehingga Rasul memberikan rukhshah untuk memukul mereka. Para wanita berkumpul dan mengeluh dengan hal ini, kemudian Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2146), Ibnu Majah (no. 1985), Ibnu Hibban (no. 1316 -al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/188), dari Sahabat Iyas bin ‘Abdillah bin Abi Dzubab radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.] Dari ‘Abdullah bin Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian sengaja mencambuk isterinya sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore harinya?” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 4942), Muslim (no. 2855) dan at-Tirmidzi (no. 2401).] Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditanya apakah hak isteri atas suaminya? Beliau menjawab: “Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecuali tetap dalam rumah.” [ Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1500)], Sunan Abi Dawud (VI/ 180, no. 2128), Sunan Ibni Majah (I/593, no. 1850) ] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Uang yang engkau infaqkan di jalan Allah, uang yang engkau infaqkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), uang yang engkau infaqkan untuk orang miskin, dan uang yang engkau infaqkan untuk keluargamu, maka yang lebih besar ganjarannya adalah uang yang engkau infaqkan kepada keluargamu.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 995), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “…Dan sesungguhnya, tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat untuk mencari wajah Allah, melainkan engkau diberi pahala dengannya sampai apa yang engkau berikan ke mulut isterimu akan mendapat ganjaran.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1295) dan Muslim (no. 1628), dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu.] Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang wajib ia beri makan (nafkah).” [Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1692), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (V/376, no. 1485).] Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya.” [ Hasan Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 928)], Sunan at-Tirmidzi (II/315, no. 1172). ] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap setiap permainan itu adalah bathil kecuali jika dilakukan dengan isteri, beliau bersabda: “Segala sesuatu yang dijadikan permainan bani Adam adalah bathil kecuali tiga hal: melempar (anak panah) dari busurnya, melatih kuda dan bercanda dengan isteri, sesungguhnya semua itu adalah hak.” [ Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4532)], Sunan an-Nasa-i dalam al-‘Usyrah (Qof II/74), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (II/89, no. 1), Abu Nu’aim dalam Ahaadiits Abil Qasim al-‘Asham (Qof XVIII/17). ] Janganlah seorang mukmin membenci mukminah. Apabila ia membencinya karena ada satu perangai yang buruk, pastilah ada perangai baik yang ia sukai.” [ Shahih [Aadaabuz Zifaaf, hal. 199], Shahiih Muslim (II/1091, no. 469). ] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari apa yang telah dilakukan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma karena lamanya bergadang (beribadah) malam dan menjauhi isterinya, kemudian beliau bersabda: . “Sesungguhnya isterimu mempunyai hak yang wajib engkau tunaikan.” [ Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IV/217-218, no. 1975), Shahiih Muslim (III/813, no. 1159 (182)), Sunan an-Nasa-i (IV/211). ] Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti ‘Utbah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Dia tidak memberi untukku dan anak-anakku nafkah yang mencukupi kecuali jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364). Barangsiapa yang memiliki dua isteri, kemudian ia lebih condong kepada salah satu di antara keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan miring sebelah. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 2017)], [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1603)], Sunan Abi Dawud (VI/171, no. 2119), Sunan at-Tirmidzi (II/ 304, no. 1150), Sunan an-Nasa-i (VII/63), Sunan Ibni Majah (I/633, no. 1969) dengan lafazh yang berbeda namun saling berdekatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat dari kalangan laki-laki dan para wanita sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, “Apakah ada seorang laki-laki yang menceritakan apa yang telah ia lakukan bersama isterinya atau adakah seorang isteri yang menceritakan apa yang telah ia lakukan dengan suaminya?” Akan tetapi semuanya terdiam, kemudian aku (Asma’) berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka semua telah melakukan hal tersebut.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian melakukannya, karena sesungguhnya yang demikian itu seperti syaitan yang bertemu dengan syaitan perempuan, kemudian ia menggaulinya sedangkan manusia menyaksikannya Shahih: [Aadaabuz Zifaaf, hal. 72]. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) keluar (rumah) untuk keperluan (hajat) kalian.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5237), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.] Tetapi, keluarnya mereka harus dengan beberapa syarat, yaitu: 1. Memakai hijab syar’i yang dapat menutupi seluruh tubuh. 2. Tidak ikhtilath (berbaur) dengan kaum laki-laki. 3. Tidak memakai wangi-wangian (parfum). Seorang suami pun dibolehkan untuk mengizinkan isterinya untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid apabila ketiga syarat di atas terpenuhi. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Apabila isteri salah seorang dari kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, janganlah ia menghalanginya.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5238), Muslim (no. 442 (134)), at-Tirmidzi (no. 570), an-Nasa-i (II/42) dan Ibnu Majah (no. 16), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.] Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian melarang para wanita hamba Allah mendatangi masjid-masjid Allah.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 900), Muslim (no. 442 (136)), at-Tirmidzi (no. 570) dan an-Nasa-i (II/42), dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.] Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. “Jangan tergesa-gesa hingga engkau dapat datang pada waktu malam -yaitu ‘Isya’- agar ia (isterimu) sempat menyisir rambut yang kusut dan mencukur bulu kemaluannya. Selanjutnya, hendaklah engkau menggaulinya” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5245, 5246, 5247), Muslim (no. 1466 (57)), Ahmad (III/298, 302, 303, 355) dan al-Baihaqi (VII/254), dari hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Dalam hadits ini, maksudnya adalah jima’. Jadi, orang yang berakal adalah orang mencampuri isterinya. (Fat-hul Baari IX/342)] Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?” (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Diperlihatkan Neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para Shahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.’” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam Isyratin Nisaa’ (no. 249), al-Baihaqi (VII/294), al-Hakim (II/190) dan ia berkata, “Hadits ini sanadnya shahih, namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 289). Dalam hadits lain, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni Neraka.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab, “Para wanita.” Seorang Shahabat bertanya, “Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudari-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka tidak bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak bersabar Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/428, IV/604) dari Shahabat ‘Abdurrahman bin Syabl radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 3058). Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan).” (HR. Bukhari no. 7145 dan Muslim no. 1840) Adh Dhohak dan Maqotil berkataنه “Kewajiban bagi seorang muslim adalah mengajari keluarganya, termasuk kerabat, budak laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 59) Sesungguhnya yang termasuk manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang menggauli istrinya lalau dia menceritakan rahasianya (jima’ tersebut)”. (HR. Muslim) Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Daud no. 1450, An Nasai no. 1610, dan Ahmad 2: 250. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits hasan sebagaimana dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 625). Hak-hak Suami (Kewajiban Isteri) al-Hakim dan selainnya dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : . “Hak bagi seorang suami atas isterinya adalah jika saja ia (suami) mempunyai luka di kulitnya, kemudian sang isteri menjilatinya, maka pada hakikatnya ia belum benar-benar memenuhi haknya.” Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3148)], Ahmad (XVI/227, no. 247). Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud pada suaminya karena Allah telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri” (HR. Abu Daud no. 2140, Tirmidzi no. 1159, Ibnu Majah no. 1852 dan Ahmad 4: 381. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih Apabila seorang wanita mau menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat terhadap suaminya, maka akan dikatakan kepadanya (di akhirat), ‘Masuklah ke Surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’ Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 660)], Ahmad (XVI/228, no. 250). Sebab itu, maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”[An-Nisaa’: 34] Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Sebaik-baik isteri ialah yang engkau senang jika melihatnya, taat jika engkau perintah dan menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi.” [ Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3299)]. ] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hak kalian atas para isteri adalah agar mereka tidak memasukkan ke dalam kamar tidur kalian orang yang tidak kalian sukai dan agar mereka tidak mengizinkan masuk ke dalam rumah kalian bagi orang yang tidak kalian sukai.” Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas” (HR. Muslim no. 1218). Janganlah seorang isteri menginfaqkan sesuatu pun dari harta suaminya kecuali atas izinnya.” Kemudian ada yang bertanya, “Tidak juga makanan?” Beliau menjawab, “Bahkan makanan adalah harta yang paling berharga.” [ Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1859)], Sunan at-Tirmidzi (III/ 293, no. 2203), Sunan Abi Dawud (IX/478, no. 3548), Sunan Ibni Majah (II/770, no. 2295) ] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang isteri menggunakan sesuatu pun dari hartanya kecuali dengan izin suaminya.” [ Dikeluarkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 775), beliau berkata, “Telah dikeluarkan oleh Tamam dalam al-Fawaa-id (II/182, no. 10) dari jalan ‘Anbasah bin Sa’id dari Hammad, maula (budak yang dibebaskan). Bani Umayyah dari Janaah maula al-Walid dari Watsilah, ia berkata, ‘Rasulullah J bersabda, kemudian ia menyebutkan hadits tersebut.” Beliau (al-Albani) berkata, “Sanad hadits ini lemah, akan tetapi ada beberapa riwayat penguat yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah tsabit.” ] Tidak boleh bagi isteri melakukan puasa (sunnah) sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya.” [ Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/295, no. 5195), Shahiih Muslim (no. 1026). ] Berdasarkan pemahaman dalil yang telah disebutkan, jika suami tidak di tempat, maka istri tidak perlu meminta izin pada suami ketika ingin melakukan puasa sunnah. Keadaan yang dimaksudkan seperti ketika suami sedang bersafar, sedang sakit, sedang berihrom atau suami sendiri sedang puasa (Lihat Fathul Bari, 9: 296 dan Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 28: 99) Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur, tapi ia menolak untuk datang, lalu sang suami marah sepanjang malam, maka para Malaikat melaknatnya (sang isteri) hingga datang waktu pagi.” [ Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/294, no. 5194), Shahiih Muslim (II/1060, no. 1436), Sunan Abu Dawud (VI/179, no. 2127). ] “ Rasulullah SAW, “Apabila seorang suami mengajak isterinya ‘menunaikan keperluan’, maka hendaknya sang isteri melayaninya meskipun ia sedang berada di atas unta.” [ Shahih: [Shahiih al-Jaami’ as-Shaghiir 534], Sunan at-Tirmidzi (II/314, no. 1160). ] Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?” (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya. Isteri mana saja yang minta cerai dari suaminya tanpa adanya alasan, maka ia tidak akan mencium bau wanginya Surga.” [ Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 2035)], Sunan at-Tirmidzi (II/329, no. 1199), Sunan Abi Dawud (VI/308, no. 2209), Sunan Ibni Majah (I/662, no. 2055). ] Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933) Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33). Seorang istri tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Baik si istri keluar untuk mengunjungi kedua orangtuanya ataupun untuk kebutuhan yang lain, sampaipun untuk keperluan shalat di masjid. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya.” Beliau juga berkata, “Bila si istri keluar rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan), bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32: 281) Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami”. (HR. Tirmidzi no. 1174 dan Ahmad 5: 242. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah: 234) Tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, yaitu (selama) empat bulan sepuluh hari.” (HR. Bukhari no. 5334 dan Muslim no. 1491 Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan).” (HR. Bukhari no. 7145 dan Muslim no. 1840) Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, shahih).



Ismael itu Pere Adam (“Manusia Keledai Liar”-Yahudi-Kristen) atau “Para Adam” (“Orang Subur”-Samaria)?
7 NOVEMBER · PUBLIK
Tafsir Kejadian 16: 12: Ismael adalah Pere Adam (“Manusia Keledai Liar” dan variasinya dalam Kitab Yahudi-Kristen) atau “Para Adam” (“Manusia Subur dalam Torah Samaria)?
Salam sejahtera atas orang-orang yang diberi petunjuk
Di dalam Alkitab Yahudi-Kristen Kitab Kejadian 16: 12, Ismael disebut sebagai Keledai Liar, hal ini sering menjadi sebuah ejekan dari beberapa orang awam yang membaca ayat ini kepada orang Arab bahkan kepada umat Islam sebagai kaum yang liar, buas dan suka bertikai. Benarkah hal tersebut? Benarkah istilah “keledai liar” bermakna negatif? Benarkah Ismael dijuluki “Keledai Liar” dalam “Taurat”? Mari kita buktikan:
English Version of Genesis 16: 11-12
A. TERJEMAHAN DARI TEKS SEPTUAGINTA DAN MASORET (ALKITAB YAHUDI-KRISTEN)
1. New International Version (OT= 1978, NT= 1973, Protestan)
The angel of the LORD also said to her: “You are now pregnant and you will give birth to a son. You shall name him Ishmael, for the LORD has heard of your misery. He will be A WILD DONKEY OF A MAN; his hand will be against everyone and everyone’s hand against him, and he will live in hostility toward all his brothers.”
2. New Living Translation (1996)
And the angel also said, “You are now pregnant and will give birth to a son. You are to name him Ishmael (which means ‘God hears’), for the LORD has heard your cry of distress. This son of yours will be A WILD MAN, as untamed as A WILD DONKEY! He will raise his fist against everyone, and everyone will be against him. Yes, he will live in open hostility against all his relatives.”
3. English Standard Version (2001 dengan revisi di 2007 dan 2011, Apokrif di 2009)
And the angel of the LORD said to her, “Behold, you are pregnant and shall bear a son. You shall call his name Ishmael, because the LORD has listened to your affliction. He shall be A WILD DONKEY OF A MAN, his hand against everyone and everyone’s hand against him, and he shall dwell over against all his kinsmen.”
4. New American Standard Bible (Protestan, OT 1971, NT= 1963)
The angel of the LORD said to her further, “Behold, you are with child, And you will bear a son; And you shall call his name Ishmael, Because the LORD has given heed to your affliction. “He will be a wild donkey of a man, His hand will be against everyone, And everyone’s hand will be against him; And he will live to the east of all his brothers.”
5. King James Bible (1611)
And the angel of the LORD said unto her, Behold, thou art with child, and shalt bear a son, and shalt call his name Ishmael; because the LORD hath heard thy affliction. And he will be a WILD MAN; his hand will be against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell in the presence of all his brethren.
6. Holman Christian Standard Bible (2003, Protestan)
Then the Angel of the LORD said to her: You have conceived and will have a son. You will name him Ishmael, for the LORD has heard your cry of affliction. This man will be like a WILD DONKEY. His hand will be against everyone, and everyone’s hand will be against him; he will live at odds with all his brothers.
7. International Standard Version (2011)
“Look, you are pregnant and will give birth to a son,” the angel of the LORD continued to say to her. “You will name him Ishmael, because the LORD has heard your cry of misery. He’ll be a wild donkey of a man. He’ll be against everyone, and everyone will be against him. He will live in conflict with all of his relatives.”
8. NET Bible (2005, interdenominasi dan Protestan Injili)
Then the LORD’s angel said to her, “You are now pregnant and are about to give birth to a son. You are to name him Ishmael, for the LORD has heard your painful groans. He will be a wild donkey of a man. He will be hostile to everyone, and everyone will be hostile to him. He will live away from his brothers.”
9. GOD’S WORD® Translation (1995)
Then the Messenger of the LORD said to her, “You are pregnant, and you will give birth to a son. You will name him Ishmael [God Hears], because the LORD has heard your cry of distress. He will be as free and wild as an untamed donkey. He will fight with everyone, and everyone will fight with him. He will have conflicts with all his relatives.”
10. Jewish Publication Society Tanakh 1917 (Yahudi Reformasi dan Konservatif)
And the angel of the LORD said unto her: ‘Behold, thou art with child, and shalt bear a son; and thou shalt call his name Ishmael, because the LORD hath heard thy affliction. And he shall be a wild ass of a man: his hand shall be against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell in the face of all his brethren.’
11. New American Standard 1977 (OT= 1971, OB=1963)
The angel of the LORD said to her further,
“Behold, you are with child,
And you shall bear a son;
And you shall call his name Ishmael,
Because the LORD has given heed to your affliction.
“And he will be a wild donkey of a man,
His hand will be against everyone,
And everyone’s hand will be against him;
And he will live to the east of all his brothers.”
12. Jubilee Bible 2000
And the angel of the LORD yet said unto her, Behold, thou art with child and shalt bear a son and shalt call his name Ishmael, because the LORD has heard thy affliction. And he will be a wild man; his hand will be against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell in the presence of all his brethren.
13. King James 2000 Bible
And the angel of the LORD said unto her, Behold, you are with child, and shall bear a son, and shall call his name Ishmael; because the LORD has heard your affliction. And he will be a wild man; his hand will be against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell over against all his brethren.
14. American King James Version (1999)
And the angel of the LORD said to her, Behold, you are with child and shall bear a son, and shall call his name Ishmael; because the LORD has heard your affliction. And he will be a wild man; his hand will be against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell in the presence of all his brothers.
15. American Standard Version (Protestan antar denominasi, OT=1901. OB=1900)
And the angel of Jehovah said unto her, Behold, thou art with child, and shalt bear a son; and thou shalt call his name Ishmael, because Jehovah hath heard thy affliction. And he shall be as a wild ass among men; his hand’shall be against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell over against all his brethren.
16. Douay-Rheims Bible (OT= 1585, OB= 1582, Gereja Katholik Roma)
And again: Behold, said he, thou art with child, and thou shalt bring forth a son: and thou shalt call his name Ismael, because the Lord hath heard thy affliction. He shall be a wild man: his hand will be against all men, and all men’s hands against him: and he shall pitch his tents over against all his brethren.
17. Darby Bible Translation (OT= 1890, OB= 1867 dengan revisi pada 1872 dan 1884)
And the Angel of Jehovah said to her, Behold, thou art with child, and shalt bear a son, and shalt call his name Ishmael, because Jehovah hath hearkened to thy affliction. And he will be a wild-ass of a man, his hand against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell before the face of all his brethren.
18. English Revised Version (revisi KJV, OT=1885, OB=1881, Apokrif 1894)
And the angel of the LORD said unto her, Behold, thou art with child, and shalt bear a son; and thou shalt call his name Ishmael, because the LORD hath heard thy affliction. And he shall be as a wild-ass among men; his hand shall be against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell in the presence of all his brethren.
19. Webster’s Bible Translation (revisi KJB 1833)
And the angel of the LORD said to her, Behold, thou art with child, and shalt bear a son, and shalt call his name Ishmael; because the LORD hath heard thy affliction. And he will be a wild man; his hand will be against every man, and every man’s hand against him; and he shall dwell in the presence of all his brethren.
20. World English Bible (2000)
The angel of Yahweh said to her, “Behold, you are with child, and will bear a son. You shall call his name Ishmael, because Yahweh has heard your affliction. He will be like a wild donkey among men. His hand will be against every man, and every man’s hand against him. He will live opposite all of his brothers.”
21. Young’s Literal Translation (1862)
and the messenger of Jehovah saith to her, ‘Behold thou art conceiving, and bearing a son, and hast called his name Ishmael, for Jehovah hath hearkened unto thine affliction; and he is a wild-ass man, his hand against every one, and every one’s hand against him — and before the face of all his brethren he dwelleth.’
22. Common English Bible w/ Apocrypha (Gereja Episkopal, OT=2011, OB= 2010)
The LORD’s messenger said to her, “You are now pregnant and will give birth to a son. You will name him Ishmael because the LORD has heard about your harsh treatment. He will be a wild mule of a man; he will fight everyone, and they will fight him. He will live at odds with all his relatives.”
23. The Bible in Basic English (OT=1949, OB= 1941)
And the angel of the Lord said, See, you are with child and will give birth to a son, to whom you will give the name Ishmael, because the ears of the Lord were open to your sorrow. And he will be like a mountain ass among men; his hand will be against every man and every man’s hand against him, and he will keep his place against all his brothers.
24. Good News Translation w/ Apocrypha (OT= 1976, OB= 1966)
You are going to have a son, and you will name him Ishmael, because the Lord has heard your cry of distress. But your son will live like a wild donkey; he will be against everyone, and everyone will be against him. He will live apart from all his relatives.”
25. New World Translation Of The Holy Scripture (1961, Jehovah’s Witnesses/Saksi-Saksi Yehuwa)
Jehovah’s angel added: “Here you are pregnant, and you will give birth to a son, and you must name him Ish’ma.-el, for Jehovah has heard your affliction. His hand will be against everyone, and everyone’s will be against him, and he will dwell opposite all his brothers
26. Orthodox Jewish Bible (2002, Yahudi Mesianik)
And the Malach Hashem said unto her, See, thou art with child and shalt bear ben, and shalt call shmo Yishmael; because Hashem shema thy oni (misery). And he will be a pere adam; his yad will be against kol, and kol yad against him; and he shall dwell in the presence of all his brethren.
27. The Complete Jewish Bible (1998 Yahudi Mesianik)
The angel of ADONAI said to her, “Look, you are pregnant, and you will give birth to a son. You are to call him Yishma’el [God pays attention] because ADONAI has paid attention to your misery. He will be a wild donkey of a man, with his hand against everyone and everyone’s hand against him, living his life at odds with all his kinsmen.”
28. New Revised Standard Version (1989: National Council of The Churches of Christs, Terutama Protestan dan GKR)
And the angel of the LORD said to her, “Now you have conceived and shall bear a son; you shall call him Ishmael, for the LORD has given heed to your affliction. He shall be a wild ass of a man, with his hand against everyone, and everyone’s hand against him; and he shall live at odds with all his kin.”
29. Lexham English Bible (2010: Logos Bible Software)
Then the Messenger of the LORD said to her, “You are pregnant, and you will give birth to a son. You will name him Ishmael [God Hears], because the LORD has heard your cry of distress. He will be as free and wild as an untamed donkey. He will fight with everyone, and everyone will fight with him. He will have conflicts with all his relatives.”
30. Revised English Bible (1989, Protestan dan GKR)
The angel of the LORD went on: “You are with child and will bear a son. You are to name him Ishmael, because the LORD has heard of your ill-treatment. He will be like the wild ass; his hand will be against everyone and everyone’s hand against him; and he will live at odds with all his kin.”
31. New Jerusalem Bible (1985: Katholik Roma)
“Then the angel of Yahweh said to her: “Now you have conceived and will bear a son, and you shall name him Ishmael, for Yahweh has heard your cries of distress. A wild donkey of a man he will be, his hand against every man, and every man’s hand against him, living his life in defiance of all his kinsmen.”
32. Revised English Version (Biblical Unitarian, Spirit and Truth Fellowship)
“The angel of Yahweh said to her, “Behold, you are with child, and will bear a son, and you are to call his name Ishmael, because Yahweh has heard your affliction. He will be like a wild donkey among men. His hand will be against every man and every man’s hand will be against him”
33. The Living Torah (1981 oleh Rabbi Aryeh Kaplan, Yahudi Ortodoks)
“[Still another] angel of God said to her’You are pregnant, and will give birth to a son. You must name him Ishmael, for God has heard your prayer. He will be a rebel. His hand will be against everyone, and everyone ‘s hand will be against him. Still, he will dwell undisturbed near all his brothers.”
*Rebel (pemberontak) (Targum; cf. Ibn Ezra). Pereh Adam dalam bahasa Ibrani. Pereh artinya keledai liar dan oleh karena itu dapat diterjemahkan “a wild donkey of a man” (seekor keledai liar manusia) (Targum Yonathan; Ramban). Rashi menafsirkan kata tersebut berarti “outdoor man” atau “ seorang manusia yang akan tinggal di Paran”
Alkitab Bahasa Indonesia Kejadian 16: 12:
1. Terjemahan Baru 1974
Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledi liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya
2. Alkitab Yang Terbuka Draft
Ia akan menjadi seperti seekor keledai liar; tangannya akan melawan setiap orang, dan tangan setiap orang akan melawannya. Dan, ia akan tinggal berhadap-hadapan dengan semua saudaranya.
3. Terjemahan Lama 1954
Maka kanak-kanak itu akan menjadi seorang bagai keledai hutan lakunya dan tangannya akan melawan segala orang dan tangan segala orangpun akan melawan dia; maka iapun akan duduk pada sebelah timur segala saudaranya.
4. Bahasa Indonesia Sehari-hari 1985
Tetapi anakmu itu akan hidup seperti keledai liar; ia akan melawan setiap orang, dan setiap orang akan melawan dia. Ia akan hidup terpisah dari semua sanak saudaranya.”
5. MILT 2008
Dan dia akan menjadi manusia keledai liar, tangannya melawan setiap orang dan tangan setiap orang melawan dia; dan dia akan tinggal berhadap-hadapan dengan semua saudaranya.”
6. Brouwerius2
Lagi dia adda jadi orang brani, dia pounja tangan adda backalei dẽgan ſegalla orang, lagi ſegalla orang pounja tangan adda backalei dengan dia, lagi dia doudoc adapan moucka deri dia pounja ſoudara lacki lacki ſamoa.
7. Leydekker
Sanistjaja ‘ija ‘itu ‘akan djadi sa`awrang hutan: tangannja kalakh lawan sakalijen, dan tangan sakalijen kalakh lawan dija: maka dimuka sakalijen sudaranja pawn ‘ija ‘akan dijam.
8. Shellabear Draft
Maka ia akan menjadi di antara manusia seperti seekor keledai hutan lakunya dan tangannya akan melawan orang sekalian dan tangan orang sekalian pun akan melawan dia maka ia pun akan duduk di hadapan segala saudaranya.”
9. Ende
Ia akan djadi seperti keledai liar. Tangannja melawan sekalian orang dan tangan sekalian orangpun melawan dia; iapun akan tinggal berhadap-hadapan dengan saudara-saudaranja”.
10. Versi Mudah Dibaca
Ismael menjadi liar dan bebas seperti keledai liar. Ia akan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dan berkemah dekat saudara-saudaranya. Ia akan melawan setiap orang, dan setiap orang menjadi lawannya.”
11. Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru (Komunitas Saksi-Saksi Yehuwa)
Mengenai putramu, ia akan menjadi seperti zebra. Tangannya akan melawan setiap orang, dan tangan setiap orang akan melawannya; dan ia akan berdiam di hadapan muka semua saudaranya.”
B. TERJEMAHAN DARI TEKS SAMARIA
1. Israelite Samaritan Version of the Torah (Taurat Milik Kaum Samaria):
And the Angel of Shehmaa said to her, I will greatly multiply your seed, that they will be too many count. And the Angel of Shehmaa said to her, Behold, you are with a child, And you will bear a son. And you shall call his name Yishmael. Because Shehmaa has heard your affliction. He will be FERTILE OF MAN. His hand WILL BE WITH EVERYONE. AND EVERYONE’S HAND WILL BE WITH HIM. And he will live among all his brother.
Jadi kita klasifikasikan terlebih dahulu:
Menurut berbagai terjemahan salinan teks Yahudi-Kristen VS teks Samaria berbahasa Inggris, maka Ismael adalah:
1) Teks Masoret:
a. “A Wild Donkey” (seekor keledai liar): HCSB, Good News Translation w/ Apocrypha
b. . “A Wild Donkey of a Man” (seekor keledai liar manusia) :NIV, ESV, ISV, NET Bible,
NAS 1977 , NASV, NWJ
c. “A Wild Donkey Among Men” (seekor keledai liar di antara manusia): WEB, REV
d. “a wild ass of a man (seekor keledai liar manusia): JPS Tanakh 1917, Darby Bible Translation, NRSV
e. “a wild ass among men” (seekor keledai liar di antara manusia) ASV, ERV
f. “a wild-ass man” (manusia keledai liar): YLT
g. “the wild ass” (keledai liar): REB
h. “a mountain ass among men” (seekor keledai gunung di antara manusia): BBE
i. “as free and wild as an untamed donkey” (bagai bebas dan liar seperti keledai tak jinak): GOD’S WORD® Translation, LEB
j. “a wild mule of a man” (bagal –peranakan kuda dan keledai- liar manusia): Common English Bible w/ Apocrypha
k. “a wild man” (manusia liar): King James Bible, NLT, Jubilee Bible 2000, King James 2000 Bible, American King James Version, Douay-Rheims Bible, Webster’s Bible Translation
l. “a rebel” (pemberontak): TLT
m. “a Pere Adam” (lihat penjelasan di bawah): Orthodox Jewish Bible
n. “Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar”: TB
o. “seperti (seekor) keledai liar”: AYT Draft, Ende
p. “hidup seperti keledai liar”: BIS
q. “manusia keledai liar”: MILT
r. “liar dan bebas seperti keledai liar”: VMD
s. “orang brani”: Brouwerius2
t. “sa`awrang hutan”: Leydekker
u. “di antara manusia seperti seekor keledai hutan lakunya”: Shellabear Draft,
v. “seperti zebra”: TDB
Teks Samaria:
a. “Fertile Of Man” (Orang Subur) : Israelite Samaritan Version of Torah
—————————————————————————————————————-
Hebrew,
וְהוּא יִהְיֶה פֶּרֶא אָדָם יָדֹו בַכֹּל וְיַד כֹּל בֹּו וְעַל־פְּנֵי כָל־אֶחָיו יִשְׁכֹּן׃
Translit, VEHU YIHYEH PERE ‘ADAM YADO VAKOL VEYAD KOL BO VE’AL-PENEY KHOL-‘EKHAV YISYKON
—————————————————————————————————————-
Menurut Artikel Sarapanpagi.org
Kita bandingkan dengan :
* Ayub 6:5, 11:12, 24:5
6:5 LAI TB, Meringkikkah keledai liar (PERE’) di tempat rumput muda, atau melenguhkah lembu dekat makanannya?
KJV, Doth the wild ass bray when he hath grass? or loweth the ox over his fodder?
Hebrew,
הֲיִנְהַק־פֶּרֶא עֲלֵי־דֶשֶׁא אִם יִגְעֶהשֹּׁ־ור עַל־בְּלִילֹו׃
Translit, HAYINHAQ-PERE’ ‘ALEY-DESYE’ ‘IM YIG’EH-SYOR ‘AL-BELILO
11:12 LAI TB, Jikalau orang dungu dapat mengerti, maka anak keledai liar (PERE’) pun dapat lahir sebagai manusia.
KJV, For vain men would be wise, though man be born like a wild ass’s colt.
Hebrew,
וְאִישׁ נָבוּב יִלָּבֵב וְעַיִר פֶּרֶא אָדָם יִוָּלֵד׃
Translit, VE’ISY NAVUV YILAVEV VE’AYIR PERE’ ‘ADAM YIVALED
24:5 LAI TB, Sesungguhnya, seperti keledai liar (PERE’) di padang gurun mereka keluar untuk bekerja mencari apa-apa di padang belantara sebagai makanan bagi anak-anak mereka.
KJV, Behold, as wild asses in the desert, go they forth to their work; rising betimes for a prey: the wilderness yieldeth food for them and for their children.
Hebrew,
הֵן פְּרָאִים ׀ בַּמִּדְבָּר יָצְאוּ בְּפָעֳלָם מְשַׁחֲרֵי לַטָּרֶף עֲרָבָה לֹו לֶחֶם לַנְּעָרִים׃
Translit, HEN PERA’IM BAMIDBAR YATSE’U BEFO’OLAM MESYAKHAREY LATAREF ‘ARAVAH LO LEKHEM LANE’ARIM
Kata Ibrani ‘פרא – PERE’ jika berdiri sendiri memang dapat bermakna “keledai liar” seperti dalam Ayub 39:5-8, hal ini didukung oleh amanat ayat-ayat itu.
* Ayub 39:5-8
39:8 LAI TB, Siapakah yang mengumbar keledai liar, atau siapakah yang membuka tali tambatan keledai jalang?
Jewish Publication Society Tanakh, Who hath sent out the wild ass free? Or who hath loosed the bands of the wild ass?
39:5 KJV, Who hath sent out the wild ass free? or who hath loosed the bands of the wild ass?
Hebrew,
מִי־שִׁלַּח פֶּרֶא חָפְשִׁי וּמֹסְרֹות עָרֹוד מִי פִתֵּחַ׃
Translit, MI-SYILAKH PERE’ (פרא) KHAFSYI UMOSROT ‘AROD MI FITEAKH
39:9 Kepadanya telah Kuberikan tanah dataran sebagai tempat kediamannya dan padang masin sebagai tempat tinggalnya.
39:10 Ia menertawakan keramaian kota, tidak mendengarkan teriak si penggiring;
39:11 ia menjelajah gunung-gunung padang rumputnya, dan mencari apa saja yang hijau.
Jenis keledai “PERE'” ini kini dikenal sebagai keledai hutan (‘Equus onager’) dan masih dapat ditemukan di bagian-bagian Asia Barat dan Tengah.
Maka kata ‘פרא – PERE’ mungkin lebih baik diterjemahkan dengan ‘keledai hutan’. karena kata ‘liar’ dalam bahasa Indonesia mempunyai konotasi yang kurang baik.
Kejadian 16:12 di atas menulis פרא אדם ; PERE ADAM bermakna manusia yang bebas mengembara dan berburu di padang pasir. Dalam budaya Yahudi, hal tersebut merupakan pujian atas sifat tangguh (bandingkan gelar bagi salah satu leluhur suku Israel yaitu ISAKHAR, lihat di bawah).
—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————
The Ramban interprets פרא אדם in the following way:
The correct interpretation is that פרא אדם is a construct form meaning that he will be a wild-ass man accustomed to the wilderness going forth to his work, seeking for food, devouring all and being devoured by all. (Ramban: Commentary on the Torah, Vol 1, Genesis, Charles Chavel trans., Shilo Publishing House, New York, 1971, p 214.)
Rabbi Hirsch says that a wildman cannot bear constraint. He who has no constraint, will be contrary to and in everyone’s face. We add that constraint here can also be understood as the constraint of reason. Rabbi Hirsch writes
He will quietly take up and maintain his [unreasonable] position in spite of all his brothers. Nobody will be his friend and still nobody will dare to oppose him. (Samson Raphael Hirsch, The Pentateuch, Genesis, Translation and Commentary, Isaac Levy trans., Judaica Press, Ltd, Gatehead 1989, p. 288)
Bibel mencatat, setelah terusir dari rumah atas tuntutan Sarai, Ismail dan ibunya (Hagar) hampir mati kehausan di padang gurun Bersyeba. Karena kesabaran, ketangguhan dan besarnya iman kepada Allah SWT, Ismail AS bisa bertahan hidup di gurun pasir yang panas dengan segala rintangan hidup yang keras. Pengalaman inilah yang membentuk karakternya menjadi sosok yang sabar, tegar, optimis, tawakkal, tegas dan lurus dalam menegakkan prinsip kebenaran.
Malaikat Tuhan pun menunjukkan kepada Hagar sebuah sumur sebagai jawaban atas doa Ismail. Di kemudian hari Ismail tumbuh menjadi seorang pemanah, menikahi seorang wanita Mesir dan memperanakkan 12 orang raja (25:12-16). Buah dari ketangguhan ini, Allah menyertai Ismail hingga dewasa menjadi nabi dan rasul-Nya (Kejadian 21:20).
Tak sedikit kalangan Kristen yang menafsirkan Ishak dan Ismael adalah seteru berdasarkan ayat tersebut, sehingga menurun kepada keturunan mereka di kemudian hari. Anggapan itu tidak benar, sebab kedua saudara itu sama-sama memakamkan ayah mereka, Nabi Ibrahim ketika wafat pada usia 175 tahun (Kejadian 25:7-9). Ini adalah keakraban dua nabi saudara sedarah.
Keakraban ini berlangsung hingga di kemudian hari, salah seorang keturunan Ismail menjadi panglima pasukan Daud (2 Samuel 17:24-25).
Jadi, tuduhan sebagian misionaris Kristen terhadap bangsa Arab, Nabi Muhammad dan umat Islam sebagai kaum keledai liar yang jahat adalah tuduhan yang ngawur dan tidak Alkitabiah.
Berdasarkan Alkitab (Bibel), justru bangsa Yahudilah yang diilustrasikan sebagai binatang buas.
“Yehuda (anak Ishak, pen) adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?” (Kejadian 49:9).
“Lihat, suatu bangsa (Israel, pen), yang bangkit seperti singa betina, dan yang berdiri tegak seperti singa jantan, yang tidak membaringkan dirinya, sebelum ia memakan mangsanya dan meminum darah dari yang mati dibunuhnya” (Bilangan 23:24).
Karena bangsa Yahudi sudah sangat keterlaluan dalam bermaksiat dan berbuat dosa, maka murka Tuhan pun turun sehingga Dia menghancurkan Yahudi seperti melenyapkan bangsa Israel:
“Lalu berfirmanlah TUHAN: “Juga orang Yehuda akan Kujauhkan dari hadapan-Ku seperti Aku menjauhkan orang Israel, dan Aku akan membuang kota yang Kupilih ini, yakni Yerusalem, dan rumah ini, walaupun Aku telah berfirman tentangnya: Nama-Ku akan tinggal di sana!” (2 Raja-raja 23:27).
Isakhar, putra kelima Yakub dari Lea, dikemukakan sebagai seorang yang kuat bagaikan keledai yang kuat dan menyukai ketenangan. Kata yang diterjemahkan keledai adalah חמור – KHAMOR, Kata kuat diterjemahkan dari kata Ibrani גרם – GEREM dan kita dapat mearik pengertiannya disini bahwa Isakhar sepeti “keledai yang bertulang kuat”, bukan mengacu kepada hewan liar dan yang sangat bersemangat menarik perhatian penonton. Justru sebaliknya, istilah ini menujuk kepada seekor hewan beban yang berkekuatan besar yang tunduk kepada kuk yang menyakitkan tanpa mengeluh agar dapat bebas untuk beristirahat dengan nyaman.
————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–
an Reguler

Yesus sebagai Nabi, Rasul (Utusan Allah), dan Hamba Allah dalam Alkitab dan Al-Qur’an (Mohon dibaca sampai selesai)

 

-Yesus adalah seorang nabi

 

A. Matius 13: 57 versi Paralel

1. Terjemahan Baru (1974)

 

Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya  sendiri dan di rumahnya.”

 

2. AYT Draft

 

Dan, mereka tersinggung oleh-Nya. Namun, Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi bukannya tidak dihormati, kecuali di tempat asalnya dan di rumahnya sendiri.”

 

3. TL (1954) ©

 

Maka mereka itu menaruh syak akan Dia. Tetapi kata Yesus kepada mereka itu, “Seorang nabi bukannya tiada berhormat, kecuali di dalam negerinya dan di dalam rumahnya sendiri.”

 

4. BIS (1985) ©

 

Maka mereka menolak Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di kampung halamannya dan di rumahnya sendiri.”

 

5. MILT (2008)

 

Dan mereka tersandung oleh-Nya. Dan YESUS berkata kepada mereka, “Seorang nabi bukannya tiada berkehormatan, kecuali di tanah asalnya dan di rumahnya sendiri.”

 

6. Shellabear 2000 (2000)

 

Mereka semua meragukan-Nya. Tetapi sabda Isa kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di kota asalnya dan di rumahnya.

 

 

B. Lukas 24: 19

 

1. Shellabear Draft

 

Maka kata Isa kepadanya, “Perkara yang mana kah itu?” Maka katanya kepadanya, “Dari hal Isa orang Nazaret, yaitu seorang nabi yang berkuasa pekerjaannya dan perkataannya di hadapan Allah dan di hadapan segenap kaum ini; -Lukas 24: 19 Shellabear Draft

 

2.  GOD’S WORD® Translation

“What happened?” he asked. They said to him, “We were discussing what happened to Jesus from Nazareth. He was a powerful prophet in what he did and said in the sight of God and all the people.

 

3. Aramaic Bible in Plain English

 

He said to them, “What thing?” They were saying to him, “Concerning Yeshua, who was from Nazareth, a man who was The Prophet mighty in word and in deed before God, and before the whole nation.

 

4. King James Bible

And he said unto them, What things? And they said unto him, Concerning Jesus of Nazareth, which was a prophet mighty in deed and word before God and all the people:

 

5. Darby Bible Translation

And he said to them, What things? And they said to him, The things concerning Jesus the Nazaraean, who was a prophet mighty in deed and word before God and all the people;

 

C.  Matius 21: 11

 

1. TB (1974) ©

 

Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea .

 

2. Shellabear 2000 (2000)

 

Jawab orang banyak yang mengiringi Isa, “Dialah Isa, nabi dari kota Nazaret, di wilayah Galilea.”

 

 

-Yesus adalah seorang rasul/utusan Allah

 

A. Ibrani 3: 1

 

1. Versi Ende

 

Djadi, saudara-saudara kudus, kamu sekalian jang mempunjai bagian dalam panggilan surgawi, pandanglah kepada Utusan Allah dan Imam-agung kita, jaitu Jesus,-Ibrani 4: 1 Ende

 

2. Jawa 1994

 

Para sedulurku sing padha dadi kagungané Gusti Allah, merga katimbalan déning Panjenengané! Padha rasak-rasakna bab Gusti Yésus, kang kautus déning Gusti Allah, supaya jumeneng Imam Agung manut sahadat kita.

 

3. Bugis

 

Saudara-saudara pada-padatta Kristéng iya puraé riyobbito ri Allataala! Coba pikkiri’i malamul-lamung passalenna iyaé Yésus! Allataala suroi Aléna banna untu’ mancaji Imang Lompo ri laleng agama iya riyaccowériyé.

 

4. Makassar

 

Sikamma sari’battangku, parangku tu Karisteng, nikioka tommo ri Allata’ala! Alle sai pikkiri’ baji’-baji’ anne ri sesena Isa! Nisuromi ri Allata’ala untu’ a’jari Imang Malompo lalang ri agamata.

 

5. New Living Translation

 

And so, dear brothers and sisters who belong to God and are partners with those called to heaven, think carefully about this Jesus whom we declare to be God’s messenger and High Priest. -Hebrew 3: 1 New Living Translation

 

6. English Standard Version

 

Therefore, holy brothers, you who share in a heavenly calling, consider Jesus, the apostle and high priest of our confession, -Hebrew 3: 1 English Standard Version

 

B. Yohanes 17: 3

 

1. TB (1974)

 

Inilah hidup yang kekal   itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,   satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

 

2. Bahasa Indonesia Sehari-hari (1985)

 

Inilah hidup sejati dan kekal; supaya orang mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa.

 

3. Shellabear 2000 (2000)

 

Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau sebagai satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Isa Al Masih yang telah Engkau utus.

 

Hamba Tuhan VS Putra Tuhan

A.  Kisah Para Rasul 3:26

1. TB (1974)

 

Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan  Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu

 

2. MILT (2008)

 

Pertama-tama bagimu, Allah , yang telah membangkitkan Putra-Nya, YESUS, Dia mengutus-Nya untuk memberkati kamu, ketika setiap orang dari antaramu berbalik dari kejahatan-kejahatan.”

 

3. Shellabear 2000 (2000)

 

Jadi, bagi kamulah pertama-tama Allah mengangkat dan mengutus Sang Anak yang datang daripada-Nya, supaya Ia melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan membuat kamu bertobat dari cara hidupmu yang jahat.”

 

4. King James Version

 

Unto you first God, having raised up his SON Jesus, sent him to bless you, in turning away every one of you from his iniquities.

 

5. New King James Version

 

To you first, God, having raised up His SERVANT Jesus, sent Him to bless you, in turning away every one of you from your iniquities.

 

Al Qur’an

 

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,  (Maryam: 30)

 

Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, kalimat-Nya yang Ia kirimkan kepada Maryam, dan juga roh dari-Nya.” (An-Nisaa’: 171)

 

Dan (Allah jadikan Isa) sebagai Rasul (yang diutus) kepada Bani Israil (dan berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa ayat (mukjizat) dari Rabb-mu.” (Ali ‘Imran: 49)

 

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? [QS.AT TAWBAH:30]

 


Perbandingan Terjemahan “Al-Ashal” dalam Surah Al-A’raf ayat 205 pada 45 Terjemahan Al-Qur’an Berbahasa Inggris Penulis: Ns. Galih Saputra, S. Kep Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim Al Qur’an adalah Kalam Allah yang tak ternilai harganya. Kitab suci terakhir yang Allah turunkan untuk menjadi pedoman hidup bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya. Namun terkadang terjemahan Al-Qur’an diartikan dan ditafsirkan secara berbeda. Ada yang melalu metode menerjemahkan sesuai bahasa Arab yang lazim diketahui, ada yang menerjemahkan Qur’an juga dengan membandingkan antar ayat Qur’an, atau membandingkan dengan hadits-hadits shahih atau bahkan dengan tafsiran sesuai dengan pemikiran suatu golongan tertentu. Maka dari itu, saya mencoba sedikit membandingkan terjemahan berbahasa Inggris terpilih untuk terjemahan satu kata dari satu ayat yakni kata “Al-Ashal” pada surah Al-A’raaf ayat 205. Kami persembahkan artikel sederhana ini dari seorang awam yang ingin selalu berusaha menjadi golongan “Orang-orang yang mempergunakan akalnya” dalam memahami ayat-ayatNya dan menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya. وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ Sahih International: And remember your Lord within yourself in humility and in fear without being apparent in speech – in the mornings and THE EVENINGS. And do not be among the heedless. Muhammad Marmaduke Pickthall: And do thou (O Muhammad) remember thy Lord within thyself humbly and with awe, below thy breath, at morn and EVENING. And be not thou of the neglectful. Abdullah Yusuf Ali: And do thou (O reader!) Bring thy Lord to remembrance in thy (very) soul, with humility and in reverence, without loudness in words, in the mornings and EVENINGS; and be not thou of those who are unheedful. Muhammad Habib Shakir: And remember your Lord within yourself humbly and fearing and in a voice not loud in the morning and the EVENING and be not of the heedless ones. Muhammad Sarwar: Remember your Lord deep within yourselves, humbly and privately – instead of shouting out loud – (in prayer) in the mornings and EVENINGS and do not be of the heedless ones. Muhsin Khan dan Muhammad Al-Hilali: And remember your Lord by your tongue and within yourself, humbly and with fear without loudness in words in the mornings, and in the AFTERNOONS and be not of those who are neglectful. Dr. Muhammad Mahmoud Ghali: And remember your Lord within yourself, in supplication and in fright, other than being (too) loud in words, in the early mornings and the (hours) before sunset, and do not be among the heedless. Muhammad Asad Leopold Weiss: And bethink thyself of thy Sustainer humbly and with awe, and without raising thy voice, at morn and at EVENING; and do not allow thyself to be heedless. Dr. Laleh Bakhtiar: And remember thy Lord in thyself humbly and with awe instead of openly publishing the sayings at the first part of the day and the EVENTIDE. And be thou not among the ones who are heedless. Wahiduddin Khan: Remember your Lord deep in your very soul, in all humility and awe, without raising your voice, morning and EVENING do not be one of the heedless Thomas Ballantyne Irving: Keep your Lord in mind within your own soul, beseeching and fearfully, without raising your voice, both in the early morning and in the EVENING; do not act so heedless! Al-Muntakhab: And bear Allah, your Creator, in your inmost thoughts and secret feelings so that the principle of thought and action, the soul, exercises devotional contemplation with humbleness and profound reverence and with bated breath at the beginning and THE END OF THE DAY. Let not your innermost being be unmindful of Allah. The Monotheist Group 2011: And remember your Lord in yourself out of humility and fear and without being too loud during the morning and the EVENING. And do not be of the careless ones. Abdel Haleem: [Prophet], remember your Lord inwardly, in all humility and awe, without raising your voice, in the mornings and in the EVENINGS- do not be one of the heedless- Abdul Majid Daryabadi: And remember thou thy Lord within thyself with humility and fear, without loudness in word, in the morning and EVENINGS; and be thou not of the negligent. Ahmed Ali: Meditate on your Lord inwardly with humility and trepidation, reciting His Book softly, morning and EVENING, and be not negligent. Aisha Bewley: Remember your Lord in yourself humbly and fearfully, without loudness of voice, morning and EVENING. Do not be one of the unaware. Ali Ünal : Remember and mention your Lord within yourself (in the depths of your heart), most humbly and in awe, not loud of voice, at morning and evening. And do not be among the neglectful. Ali Quli Qara’i: And remember your Lord within your heart beseechingly and reverentially, without being loud, morning and evening, and do not be among the heedless. Hamid S. Aziz: And remember your Lord within yourself humbly and with awe, below your breath, in the morning and in the evening; and be not of those who are neglectful (or unheedful). Muhammad Taqi Usmani: Remember your Lord in your heart with humility and awe, and without speaking loudly, in mornings and evenings, and do not be among the heedless. Shabbir Ahmed: Remember your Sustainer within yourself humbly and in reverence, and without raising your voice, morning and evening. Be not among the neglectful. Syed Vickar Ahamed: And you (also, O reader!) bring your Lord into yourselves [by remembering Him, in your (very) soul], with modesty and in respect, without loud words, in mornings and evenings; And you do not be of those who do not listen (to warning). Farook Malik: Bring your Lord to remembrance deep in your soul with humility and in reverence without raising your voice, both in the mornings and in the evenings; and be not of those who are heedless. Dr. Munir Munshey: Each morning and evening, remember your Lord in your heart with humility and fear, and without raising your voice. Do not (ever) be among the neglectful and the unmindful. Dr. Mohammad Tahir-ul-Qadri: And remember your Lord in your heart with humility and tearful submissiveness and fear and repentance and also by calling in low tones. (Persevere with His remembrance) morning and evening and be not of the neglectful. Dr. Kamal Omar: And bring your Nourisher-Sustainer to remembrance in your (very) soul in humility and reverence and without loudness in word — in the mornings and in the evenings, and be not of those who are unheedful. Talal A. Itani (New Translation): And remember your Lord within yourself, humbly and fearfully, and quietly, in the morning and the evening, and do not be of the neglectful. Bilal Muhammad: (2013): And do you, O reader, bring your Lord to remembrance in your very soul, with humility and in reverence, without audible words, in the mornings and evenings, and be not you of those who are unheedful. Maududi: And remember [O Prophet] your Lord in your mind, with humility and fear, and without raising your voice; remember Him in the morning and evening, and do not become of those who are negligent.. The Monotheist Group (2013 Edition): And remember your Lord within yourself, in humility and in reverence; and without loudness in words, during the morning and the evening. And do not be of the careless ones. Bijan Moeinian: Talk to your Lord, morning and evening, with a sincerity which come from the within, with humility, with respect and in a low voice and do not be like those who simply do not care. Faridul Haque : And remember your Lord within your hearts humbly and with fear, and softly with your tongues, morning and evening, and do not be of the neglectful. Hasan Al Fatih Qaribullah: Remember your Lord in your soul with humility and fear, and not with a loud voice, morning and evening, and do not be among the inattentive. Maulana Muhammad Ali: And remember thy Lord within thyself humbly and fearing, and in a voice not loud, in the morning and the evening, and be not of the heedless. Muhammad Ahmed and Samira: And remember/mention your Lord in your self humbly and humiliated, and hiddenly/secretly and other than the publicized/declared from the saying/opinion and belief at the early morning , and the evenings to sunsets , and do not be from the ignoring/disregarding. Sher Ali: And remember thy Lord in thy mind humbly and fearing HIM, and in a low voice in the mornings and evenings; and be not of the heedless. Rashad Khalifa: You shall remember your Lord within yourself, publicly, privately, and quietly, day and night; do not be unaware. Ahmed Raza Khan (Barelvi): And remember, your Lord within yourself, humbly and fearfully, and without uttering a voice from the tongue, morning and evening and be not you amongst heedless. Amatul Rahman Omar: Keep on remembering Your Lord in your mind with humility and awe and in a voice not loud, in the mornings and the evenings, and do not be of the heedless. Sayyid Qutb: And bethink yourself of your Lord humbly and with awe, and without raising your voice, in the morning and evening; and do not be negligent. Ahmed Hulusi: Indeed, those who are with your Rabb never show arrogance and refrain from servitude… They continue their existence through Him (tasbih) and prostrate to Him (by feeling their nothingness in the sight of His Might). (This is a verse of prostration.) Sayyed Abbas Sadr-Ameli: And remember your Lord within your self in humility and awe; without being loud of voice, in the morning and the evening, and do not be of the heedless ones. Mir Aneesuddin: And remember your Fosterer within yourself (soul/mind) humbly and with fear, and in words not loud, in the morning and the evening and do not be of the heedless ones. Mohammad Shafi: And remember your Lord within yourself, humbly and in fear ¬ and in a voice that is not loud ¬ morning and evening, and be not of those who are heedless. KLASIFIKASI: 1. “Evening” : Muhammad Marmaduke Pickthall, Muhammad Asad Leopold Weiss, Wahiduddin Khan, Ahmed Ali, Aisha Bewley, Ali Ünal , Ali Quli Qara’i, Shabbir Ahmed, Dr. Munir Munshey, Dr. Mohammad Tahir-ul-Qadri, Maududi, Bijan Moeinian, Faridul Haque, Hasan Al-Fatih Qaribullah, Ahmed Raza Khan (Barelvi), Sayyid Qutb, Mohammad Shafi 2. “The Evening” : Muhammad Habib Shakir, T. B Irving, The Monotheist Group 2011, Hamid S. Aziz, Talal A. Itani, The Monotheist Group (2013 Edition):, Maulana Muhammad Ali, Sayyed Abbas Sadr-Ameli, Mir Aneesuddin 3. “Evenings”: Abdullah Yusuf Ali, Muhammad Sarwar, Abdul Majid Daryabadi, Muhammad Taqi Usmani, Syed Vickar Ahamed, Bilal Muhammad, Sher Ali 4. “The Evenings”: Sahih International, Abdel Haleem, Farook Malik, Dr. Kamal Omar, Muhammad Ahmed dan puterinya Samira, Amatul Rahman Omar 5. “The Eventide”: Dr. Laleh Mehree Bakhtiar (wanita Iran-Amerika) 6. “Afternoons”: Muhsin Khan dan Muhammad Al-Hilali 7. “The End of The Day”: Al-Muntakhab (The Supreme Council of Islamic Affairs) 8. “Night”: Rashad Khalifa (pendiri agama United Submitters International) 9. “The (Hours) before sunset”: Dr. Muhammad Mahmoud Ghali Menurut Lane’ Lexicon: Alif-Sad-Lam = to be rooted. asiilan – evening, time before sunset. Lane’s Lexicon, Volume 1, pages: 101, 102, 103 ## http://ejtaal.net/aa/#q=aSl Berdasarkan Oxford Advanced Learner’s Dictionary 1. Definition of evening in English: noun 1The period of time at the end of the day, usually from about 6 p.m. to bedtime 2. . Definition of afternoon in English: noun The time from noon or lunchtime to evening: adverb (afternoons) informal Back to top In the afternoon; every afternoon. 3. Definition of eventide in English: noun archaic or , literary The end of the day; evening: 4. Definition of night in English: noun 1The period from sunset to sunrise in each twenty-four hours: Menurut Tafsir Ibnu Katsir: Hal ini Dia ungkapkan melalui firman-Nya: {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ} dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Qaf: 39) Hal ini terjadi sebelum salat lima waktu difardukan pada malam Isra, dan ayat ini termasuk ayat periode Mekah (Makkiyyah). Dalam ayat ini disebutkan al-guduwwu yang artinya permulaan siang hari. Al-asal adalah bentuk jamak dari lafaz asil se-wazan dengan lafaz aiman yang merupakan bentuk jamak dari lafaz yamin. Tafsir Jalalain: (Dan sebutlah nama Tuhanmu di dalam hatimu) secara diam-diam (dengan merendahkan diri) menghinakan diri (dan rasa takut) yakni takut terhadap-Nya (dan) lebih jelas lagi daripada diam-diam dengan (tidak mengeraskan suara) maksudnya pertengahan di antara diam-diam dan keras suara (di waktu pagi dan petang) pada permulaan siang hari dan PADA AKHIR SIANG HARI (dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai) daripada mengingat atau menyebut Allah. Tafsir Quraish Shihab: Ingatlah Tuhan dalam hatimu, kamu akan merasakan kehadiran, kedekatan dan rasa takut pada-Nya. Tidak perlu kamu bersuara keras, ataupun terlalu lemah. Tempatkanlah zikir itu di waktu pagi dan SORE, agar kamu memulai dan mengakhiri harimu dengan mengingat Allah. Jangan sampai kamu lupa berzikir pada Allah. Dalam masalah waktu dzikir petang terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Pendapat pertama: dimulai dari waktu zawal (matahari tergelincir ke barat) hingga matahari tenggelam dan awal malam. Inilah pendapat Al Lajnah Ad Daimah dalam fatwanya dan pendapat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua Al Lajnah Ad Daimah dan mufti Saudi Arabia di masa silam. Pendapat kedua: dimulai dari ‘Ashar hingga Maghrib. Inilah pendapat Imam Nawawi dalam Al Adzkar, Ibnu Taimiyah dalam Al Kalimuth Thoyyib, Ibnul Wayyim dalam Al Wabilush Shoyyib, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Salim As Safarini Al Hambali dalam kitabnya Ghidza-ul Albaab li Syarh Manzhumatul Aadab, dan Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah. Pendapat ketiga: dimulai dari waktu zawal hingga pertengahan malam. Inilah pendapat As Suyuthi yang dinukil oleh Ibnu ‘Allan dalam Al Futuhat Ar Robbaniyyah. Pendapat keempat: dimulai dari tenggelamnya matahari hingga terbit fajar (waktu Shubuh). Demikian pendapat Ibnul Jazari, Asy Syaukani, Ibnu Hajar Al Haitami, dan Syaikh Abul Hasan ‘Ubaidullah Al Mubarakfuri. Menurut artikel dari Abul-jauzaa Al-Jauhariy rahimahullah berkata: والأَصيلُ: الوقت بعد العصر إلى المغرب “Dan al-ashiil artinya adalah waktu setelah ‘Ashar hingga Maghrib” [Ash-Shihaah fil-Lughah, 1/15 – via Syamilah]. Penulis kitab Mukhtaarush-Shihaah (1/11) mengatakan hal yang sama. Allah ta’ala berfirman: وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” [QS. Aali ‘Imraan : 41]. وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ “Dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi” [QS. Al-Mukmin : 55]. Qataadah rahimahullah berkata tentang makna ayat : ‘pada waktu petang dan pagi’: صَلاةُ الْفَجْرِ وَصَلاةُ الْعَصْرِ وَكُلُّ شَيْءٍ فِي الْقُرْآنِ مِنْ ذِكْرِ التَّسْبِيحِ فَهِيَ الصَّلاةُ “Shalat Shubuh dan shalat ‘Ashar. Dan segala sesuatu di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan tasbiih, maka artinya adalah shalat” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Tafsiir-nya no. 2683]. Mujaahid rahimahullah berkata tentang makna ayat : ‘pada waktu petang dan pagi’: الإِبْكَارُ: أَوَّلُ الْفَجْرِ، وَالْعَشِيُّ: مَيْلُ الشَّمْسِ حَتَّى تَغِيبَ “Al-ibkaar adalah awal waktu fajar, sedangkan al-‘asyiy adalah condongnya matahari (di siang hari) hingga terbenamnya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Jaami’ul-Bayaan, 2/392-393 dan Al-Bukhaariy no. 3246; shahih]. Allah ta’ala berfirman: وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ “Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (nya)” [QS. Qaaf : 39]. Beberapa ayat di atas menjelaskan perintah dan sekaligus keutamaan berdzikir pada waktu sebelum terbit dan terbenamnya matahari. Itu dikuatkan oleh riwayat berikut: Dari Anas bin Maalik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah ta’ala mulai shalat Shubuh hingga terbit matahari lebih aku senangi daripada memerdekakan empat orang budak dari anak Ismaa’iil. Dan aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah mulai shalat ‘Ashar hingga tenggelam matahari lebih aku senangi daripada memerdekakan empat orang budak” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3667, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 8/38 (8/68) no. 15960, Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah no. 2173, dan yang lainnya; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 2/413]. Riwayat ini menjelaskan pada kita tentang keutamaan berdzikir di waktu pagi dan sore hari, yaitu sebelum terbit dan tenggelamnya matahari. Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin Bazii’ : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-A’laa : Telah menceritakan kepada kami Daawud, dari ‘Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir’ sebanyak dua ratus kali, tidak akan disamai oleh seorang pun kecuali orang yang mengucapkan semisal dengannya atau lebih banyak” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 10336; sanadnya shahih]. Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadh: ” “Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir’ sebanyak seratus kali di pagi hari dan seratus kali di sore hari (amsaa), tidak akan disamai oleh seorang pun kecuali orang yang mengucapkan semisal dengannya atau lebih banyak” [idem no. 10335; sanadnya shahih]. Dalam riwayat lain dari jalur Al-Auzaa’iy dari ‘Amru bin Syu’aib; disebutkan dengan lafadh: …..قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا…… “……sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya…..“ [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 10588 dan dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah hal. 476-477 no. 821 dan Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin no. 516; sanadnya shahih]. Tiga riwayat di atas saling menjelaskan bahwa kata al-masaa’ maknanya adalah sore sebelum tenggelam matahari. Ini sesuai dengan makna dalam bahasa Arab itu sendiri. المساء: بالفتح ج أمسية، الزمان ما بعد الظهر إلى المغرب “Al-masaa’, jamaknya amsiyyah; yaitu waktu antara dhuhur hingga maghrib” [Mu’jamu Lughatil-Fuqahaa’, hal. 424]. والمَساء بعذ الظهر إِلى صلاة المغرب وقال بعضهم إِلى نصف الليل “Al-masaa’, adalah waktu setelah shalat Dhuhur hingga shalat maghrib. Dan sebagian mereka berkata : ‘Hingga pertengahan malam” [Lisaanul-‘Arab, hal. 4206]. ( المساء ) ما يقابل الصباح وزمان يمتد من الظهر إلى المغرب أو إلى نصف الليل ( ج ) أمسية “(Al-masaa’) adalah kebalikan dari ash-shabaah dan waktu yang terbentang dari dhuhur hingga maghrib atau hingga pertengahan malam. Jamaknya amsiyyah” [Al-Mu’jamul-Wasiith, hal. 870]. Jika kita perhatikan dalil-dalil yang disebutkan di atas, lafadh-lafadh anjuran untuk berdzikir di waktu sore dengan menggunakan lafadh al-masaa’, maksudnya adalah waktu setelah ‘ashar hingga maghrib sebelum terbenamnya matahari. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul-Qayyim [Al-Waabilush-Shayyib, hal. 239-240]. Hal ini dikecualikan apabila ada keterangan dzikir tersebut diucapkan pada waktu malam (setelah tenggelamnya matahari) – karena makna al-masaa’ menurut sebagian ulama juga meliputi waktu hingga pertengahan malam. Misalnya dzikir sayyidul-istighfar: Dari Syaddaad bin Aus, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Ucapan sayyidul-istighfaar adalah : ‘Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia dengan perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosaku kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat’. Apabila seseorang mengucapkannya pada sore hari lalu meninggal, niscaya ia masuk surga – atau : ia termasuk penduduk surga. Dan apabila seseorang membacanya pada pagi hari lalu meninggal pada hari itu, ia pun mendapat ganjaran yang sama” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6323]. Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadh: Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum sore hari, maka ia termasuk penduduk surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada waktu malam dengan penuh keyakinan sebelum pagi hari, maka ia termasuk dari peduduk surga” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6306]. 1. Al-masaa’ secara bahasa adalah asalnya waktu dari dhuhur hingga maghrib. Ulama lain menambahkan hingga tengah malam. 2. Keutamaan berdzikir secara umum di waktu sore adalah sebelum matahari tenggelam. 3. Ada nash yang sharih yang menyebutkan bahwa dzikir sore dengan lafadh amsaa maksudnya adalah sebelum matahari terbenam. Ini sesuai dengan keumuman yang ada di point 2. 4. Ada nash sharih yang menyebutkan bahwa dzikir sore dengan lafadh amsaa itu adalah setelah terbenamnya matahari (malam). Artikel di atas ingin menyimpulkan bahwa dzikir yang disebutkan dengan lafadh amsaa atau masaa’ jika tidak ditambahkan keterangan setelah terbenamnya matahari (malam), maka dilakukan sebelum terbenamnya matahari. Namun jika terdapat lafadh yang secara tekstual atau makna menunjukkan dilakukan waktu malam, maka dilakukan waktu malam. Keutamaan umum dzikir petang itu memang tekstual nashnya sebelum terbenamnya matahari. Di atas sudah disebutkan dalilnya. Adapun jika ada nash lain yang menjelaskan keutamaan dzikir tertentu yang disebutkan setelah matahari terbgenam, maka itu merupakan tambahan dari keumumannya. KESIMPULAN Jadi dengan berpedoman pada bahasa aslinya yakni bahasa Arab dan penjelasan Al-Jauhariy rahimahullah yang berkata: “Dan al-ashiil artinya adalah waktu setelah ‘Ashar hingga Maghrib” [Ash-Shihaah fil-Lughah, 1/15 – via Syamilah] serta berbagai penjelasan di atas maka terjemahan “Al-Ashal” dalam Surah Al-A’raf ayat 205 pada Al-Qur’an berbahasa Inggris yang lebih tepat adalah terjemahan dari Dr. Muhammad Mahmoud Ghali “The (Hours) before sunset”, dari terjemahan dari Al-Muntakhab “The End of The Day” dengan asumsi “Akhir Hari” berdasarkan penanggalan Islam atau keterangan-keterangan hadits yakni sore hari setelah Shalat Ashar sampai matahari terbenam, bukan berdasarkan pengertian “The End of The Day” dalam kalender Masehi, sedangkan untuk terjemahan “Afternoons” kurang tepat karena waktu “Afternoon” yakni dari waktu tergelincirnya matahari sampai terbenam matahari, dan “Evening” atau “Eventide” atau “Night” juga kurang tepat meskipun ada beberapa dzikir yang khusus dibaca setelah terbenam matahari tapi tidak tepat untuk menerjemahkan kata “Al-Ashal”. Dr. Muhammad Mahmoud Ghali: And remember your Lord within yourself, in supplication and in fright, other than being (too) loud in words, in the early mornings and the (hours) before sunset, and do not be among the heedless. Demikian artikel yang kami buat, dan kami yakin pasti jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami memohon saran dan kritik yang membangun terhadap artikel ini guna meningkatkan pengetahuan kita. Daftar Pustaka http://legacy.quran.com http://corpus.quran.com http://www.islamawakened.com/quran/7/205/ http://www.studyquran.co.uk http://www.tafsirq.com http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/03/waktu-dzikir-sore.html http://www.oxforddictionaries.com http://nteencutez.blogspot.co.id http://pemudapersis32.blogspot.co.id


Yahyâ. Tidak ada seorang pun yang Kami beri nama itu sebelumnya
Sebuah Pertanyaan Linguistik & Eksegetis  Al-Qur’an Surah Maryam, 19:07

Assalamu `alaikum wa-wa barakatuhu rahamatullahi:

1. pengenalan

Dalam bab Al-Qur’an yang membawa nama Maria (QS. Maryam), kisah kelahiran ajaib Yesus (19:16-34) segera didahului dengan kisah kelahiran ajaib Yahya kepada Zakharia usia dan nya tua dan mandul istri (19:1-15). Yahya secara tradisional diidentifikasi sebagai tidak lain adalah Yohanes Pembaptis. Para misionaris Kristen telah menunjuk sebuah kesulitan yang timbul pada ayat 19:7 di mana kelahiran Yahya diumumkan:
Gambar

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, Tidak ada seorang pun yang Kami beri nama itu sebelumnya.”

Mereka mengklaim bahwa ayat ini dalam kesalahan. Menurut pemahaman mereka tentang ayat 19:07, nama Yahya (Yohanes) adalah unik, dan tidak ada manusia sebelum kelahiran Yahya (Yohanes) pernah memiliki nama seperti itu, namun dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua puluh lima referensi ke nama John:

     Bahkan, ada 27 kasus nama “Yohanan” yang disebutkan dalam Perjanjian Lama.

Jadi nama Yohanes (Yahya) adalah tidak unik atau luar biasa dan kesalahan Al-Qur’an jelas jelas. Tampaknya sumber asli dari kontroversi ini adalah Abraham Geiger yang menulis sebuah buku berjudul Apakah topi Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?:

Dia [yaitu, Muhammad (P)] sebenarnya menegaskan bahwa sebelum Yohanes Pembaptis tidak ada yang ditanggung nama Yohanes. Apakah ia tahu apa-apa dari sejarah Yahudi ia telah menyadari bahwa, terlepas dari beberapa orang penting historis dengan nama yang disebutkan dalam Tawarikh, ayah dan anak dari imam Makabe terkenal, Matatias, keduanya disebut Yohanes. Kesalahan ini pasti jelas bagi komentator Arab, karena mereka mencoba untuk memberi makna lain untuk kata-kata yang jelas dan jelas. [1]

Geiger tidak mengutip manapun komentator Muslim untuk mendukung klaim, dan, sebagaimana akan ditunjukkan dalam bagian di bawah ini, kita harus bertanya-tanya apakah klaim bahwa “kesalahan ini pasti sudah jelas bagi komentator Arab” adalah murni temuannya sendiri.

Sebagai misionaris tidak dapat menjelaskan apa pun terhadap hal ini, yang tersisa bagi kita untuk menyelidiki dan memberikan informasi yang kurang penting. Apakah nama Yahya dan John satu dan sama? Apakah ayat (ayat) sebenarnya berarti apa terjemahan kata? Makalah ini akan membahas berbagai isu seputar nama Yahya:

     * Apakah nama Yohanes adalah bahasa setara dengan Yahya.

     * Arti dari nama Yahya.

     * Penggunaannya oleh Mandean – yang “Kristen St John”.

     * Dan komentar-komentar dan penjelasan (tafsir) dari ayat 19:07.

2. Apakah Nama Yohanes Secara bahasa Setara Untuk Yahya?

Menurut Misionaris Kristen Yahya nama adalah bentuk bahasa Arab dari Yohanes:

     John: Ibrani: Yohanan, Arab: Yahya. Yunani: Ioannes

Faktanya adalah bahwa setara Arab dari Yohanes dari Perjanjian Baru adalah Yuhanna tidak Yahya. Dan sama, setara Arab Yohanes dalam Alkitab Ibrani adalah Yuhanan tidak Yahya. Siapapun yang memiliki pengetahuan dasar tentang bahasa Semit akan langsung menunjukkan bahwa Yahya nama dan Yohanes (Yuhanan atau Yuhanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda. Satu tidak perlu menjadi ahli dalam bahasa Semit untuk memverifikasi klaim ini, sebuah terjemahan bahasa Arab sederhana dari Alkitab akan cukup.

Nama Yohanes dari Alkitab Ibrani seperti yang tercantum dalam Konkordansi Strong adalah Yowchanan dalam bahasa Ibrani:

Yowchanan {yo-Khaw-nawn ‘} bentuk 3076; n pr m

AV – Yohanan 24; 24

Yohanan = “TUHAN telah menghiasi”

    1. Seorang imam selama imamat tinggi Joiakim yang kembali dengan Zerubabel
    2. Seorang kapten Yahudi setelah kejatuhan Yerusalem
    3. Putra sulung raja Yosia
    4. Seorang pangeran pasca-pembuangan dari garis Daud
    5. Ayah dari Azarya, imam dalam waktu Salomo
    6. Seorang Benyamin, salah satu pahlawan Daud
    7. Sebuah Gadite, salah satu pahlawan Daud
    8. Sebuah pengasingan kembali

Dalam Alkitab bahasa Arab nama ini diberikan sebagai Yuhanan seperti terlihat dalam teks di bawah

Raja-raja 25:23 menunjukkan Yûhanan

Gambar
Raja-raja 25:23

I Tawarikh 3:15 menunjukkan Yûhanan

 Gambar

I Tawarikh 3:15

I Tawarikh 3:24 menampilkan Yûhanan

Gambar
I Tawarikh 3:24

Ezra 8:12 menampilkan Yûhanan

Gambar
Ezra 8:12

Mari kita mengambil contoh dari Perjanjian Baru. Nama Yohanes (Pembaptis) dalam bahasa Yunani adalah Ioannes menurut Konkordansi Strong:

Ioannes {ee-o-an’-NACE} asal Ibrani 3110, n pr m.

AV – Yohanes (Pembaptis) 92, Yohanes (rasul) 36, Yohanes (Markus) 4, Yohanes (Imam) 1; 133

John = “TUHAN adalah pemberi yang murah hati”

   1. Yohanes Pembaptis adalah anak Zakharia dan Elisabeth, pendahulu Kristus. Atas perintah Herodes Antipas ia dilemparkan ke dalam penjara dan setelah itu dipenggal.
   2. Rasul Yohanes, penulis Injil keempat, anak Zebedeus dan Salome, saudara Yakobus yang lebih tua. Dia adalah murid yang (tanpa menyebutkan dengan nama) yang dibicarakan dalam Injil Keempat sebagai sangat sayang kepada Yesus dan menurut pendapat tradisional adalah penulis kitab Wahyu.
   3. Yahya, yang disebut Markus, teman Barnabas dan Paulus. Kisah Para Rasul 12:12
   4. Yohanes seorang pria tertentu, anggota Sanhedrin Kis 05:06

Dalam Alkitab bahasa Arab nama John, seperti yang digunakan dalam Makabe dan Perjanjian Baru, adalah Yuhanna:

1 Makabe 2:02 menampilkan Yuhanna

Gambar

1 Makabe 02:02

Yohanes 01:06 menunjukkan Yuhanna, bukan Yahya.

Gambar
Yohanes 1:06

 Tak perlu dikatakan, Injil menurut Yohanes, juga Yuhanna:

Injil menurut Yuhanna (Yohanes)

Gambar
Injil menurut Yuhanna (Yohanes)

Dengan demikian setara Arab Yohanes (Yowchanan) dari Alkitab bahasa Ibrani adalah Yuhanan tidak Yahya, dan setara Arab Yohanes (Ioannes) dari Perjanjian Baru adalah Yuhanna tidak Yahya. Dengan membabi buta mengikuti setiap polemik anti-Islam murah, seperti Abraham Geiger, para misionaris Kristen telah menyesatkan.
3. Arti Of The Yahya Nama

Nama-nama “Yahya” dan “Yohanes” (Yuhanan atau Yuhanna) adalah nama-nama yang sama sekali berbeda. Al-Qur’an berbicara tentang anak Zakharia sebagai Yahya bukan John. Qur’an tidak menyebut nama Yohanes apakah Yuhanna atau Yuhanan.

Ahli Alkitab menekankan bahwa nama Yuhanna dan Yuhanan adalah satu dan sama. Dalam terjemahan Ibrani dari Injil mereka tidak menggunakan Yuhanna tetapi mereka kembali ke Yuhanan asli. Mereka juga memberikan kedua nama arti yang sama. Kedua nama berisi “Yu”, bentuk pendek dari TUHAN, nama Ibrani dari Allah. Adapun Hanan atau hanna, baik berasal dari akar bahasa Aram Hanan (sama dengan akar bahasa Arab untuk hanna) yang berarti “kelembutan / mengumbar Allah” persis seperti Hanania nama Ibrani.

Adalah nama Yahya Arab atau asing? Dalam bahasa Arab, Yahya bentuknya yang sekarang adalah pribadi ketiga dari haya akar bahasa Arab. Para haya akar bahasa Arab (yang dapat ditulis dengan alif ramping atau alif tegak baik dalam bentuk masa kini dan masa lalu) memiliki dua makna:

    * Yang pertama berasal dari al-hayah, yakni kehidupan yang merupakan kebalikan dari kematian seperti ketika dikatakan: lan ANSA laka hadha as-sani `a hayit ma, yaitu,” Aku tidak akan melupakan ini mendukung Anda sebagai selama aku hidup “yang berarti selama aku masih hidup dan tidak mati.

    * Arti kedua dari haya akar bahasa Arab berasal dari akhir al-haya ‘dengan rasa malu arti hamzah / kesucian. Dalam pengertian kedua dikatakan: hayitu minhu artinya satu adalah malu atau bingung dari seseorang. Asal usul al-haya ‘berasal dari al-inqibad dan al-inziwa’, yaitu, introversi. Inilah sebabnya mengapa ular disebut hayyah karena mengumpulkan tubuhnya sekitar itu sendiri dalam bentuk disk.

Namun, tampaknya ada perbedaan pendapat diantara para sarjana Muslim tentang asal nama ini. Al-Suyuti menyatakan dalam Al-Itqan fi nya `Ulum al-Qur’an:

    Yahya: Anak dari Zakariyya, yang pertama untuk menanggung nama yang menurut Al Qur’an. Ia lahir enam bulan sebelum Yesus, dan diberi kenabian sementara muda, dan dibunuh secara tidak adil. Allah melayang-layang Nosor Nobukhod dan pasukannya melawan para pembunuh-Nya. Yahya adalah nama non-Arab, tetapi juga dikatakan [oleh beberapa] menjadi asal Arab. Menurut al-Wahidi: Dalam kedua kasus nama tidak mengizinkan nunation.

    Al-Kirmani menyatakan: Dalam kasus kedua [yaitu, nama adalah bahasa Arab berasal], telah mengatakan bahwa: ia disebut demikian karena Allah membuatnya hidup dengan iman, bahwa rahim ibunya menjadi hidup dengan dia, dan bahwa ia menjadi martir, martir karena hidup [bal ahya’un `inda rabbihim yurzaqun].

    Ia juga mengatakan bahwa artinya adalah “yamut”, yaitu “mati dia” seperti ketika kita menggunakan “mafazah” berarti “mahlakah” dan “salim” berarti “ladigh” [2].

Para Yahya memiliki nama orientalis juga banyak bingung. Paul Casanova berpendapat bahwa Yahya adalah “kesalahan” yang perlu “dikoreksi”:

    Oleh karena itu saya ragu-ragu untuk waktu yang lama untuk menyarankan koreksi yang tampaknya lebih mungkin untuk saya. Apa saya hari ini memutuskan untuk melakukannya, saya harus mencatat, bahwa sarjana Barat cenderung lebih dan lebih untuk membebaskan diri dari rasa hormat takhayul mereka terhadap integritas mutlak dari Al Qur’an, dan bahwa “semitizing” Jerman sarjana, Barth juga menyarankan koreksi yang cukup penting antara mana yang menarik bagi saya khususnya, karena saya telah berpikir tentang itu untuk waktu yang lama dan saya senang melihatnya disajikan seperti yang saya bayangkan sendiri. Ini adalah koreksi untuk Youhanna Yahya, Youhanna bukan Yahya, nama Santo Yohanes Pembaptis. Saya tidak berani untuk mempublikasikannya, pertama karena alasan yang umum dinyatakan sebelumnya, karena dapat menyebabkan sebuah kebetulan yang aneh. Memang, Mandean atau pseudo-Kristen Santo Yohanes, yang diidentifikasi dengan Sabian Al Qur’an, memiliki buku mana Nabi utama mereka disebut Yahio [sic!]. Jika nama itu adalah karena salah membaca para penulis Al-Qur’an, buku ini tentu akan lebih tua dari difusi Qur’an kanonik dan semua teori dibangun pada identifikasi yang akan berantakan. [3]

Mingana, mengikuti jejak Margoliouth [4], percaya bahwa puisi pra-Islam adalah pemalsuan pasca-Islam (suatu teori yang sekarang sudah baik dibantah oleh para sarjana Muslim dan non-Muslim). Oleh karena itu, untuk Mingana, Qur’an adalah buku pertama dalam bahasa Arab yang “penulis” memiliki:

    … besar kesulitan. Dia harus beradaptasi kata-kata baru dan ungkapan baru untuk ide-ide segar, dalam bahasa yang belum diperbaiki oleh tata bahasa atau leksikografi. [5]

Mingana terpaksa aplikasi berat Syria untuk memahami “asal” kata Yahya: Dia menyatakan:

    Untuk mengungkapkan “John” Alquran dari hari-hari kita memiliki Yahya bentuk aneh. Saya percaya dengan Margoliouth [6], bahwa nama itu hampir pasti Yohannan Syria. [7]

Dia juga membuat pernyataan yang agak aneh bahwa dalam manuskrip Al-Qur’an awal dan undotted, huruf Arab yhy dari nama Yahya dapat dibaca sebagai:

    Yohanna, Yohannan, atau Yahya, dan kurra Muslim yang tidak mengenal bahasa lain selain bahasa Arab mengadopsi bentuk Yahya keliru. [8]

Arthur Jeffery percaya bahwa saran di atas [9] layak dukungan tetapi pada saat yang sama ia memberi tahu kita bahwa:

    … tampaknya ada ada jejak nama [yakni, Yahya] dalam literatur awal [orang Arab] [10].

Sebuah pertanyaan retoris harus ditanyakan: Jika tidak ada jejak dari nama Yahya dalam literatur Arab pra-Islam, lalu mengapa harus teks undotted dibaca sebagai Yahya (yhy)? Mengapa tidak dibaca sebagai sesuatu yang lain, seperti tht?

CC Torrey, seperti Casanova dan Jeffery, juga berpendapat bahwa Yahya Al-Qur’an adalah salah membaca Yuhanna, [11] tetapi semua qira’at yang sepakat dalam menyatakan bahwa yhy undotted hanya dapat dibaca sebagai Yahya dan bukan sebagai Yuhanna atau Yuhanan.

Selanjutnya, orientalis yang pendapatnya dikutip di atas juga percaya Yahya untuk menjadi asing (yaitu, non-Arab) asal, namun saran mereka bahwa nama Yahya adalah “kesalahan” dinyatakan tanpa bukti apa-apa yang pernah! Meskipun sarjana Barat yang paling (tidak seperti Geiger atau misionaris Kristen) menyadari bahwa Yahya nama dan Yohanes (Yuhanan atau Yuhanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda berasal dari dua akar yang berbeda, mereka hanya bisa berspekulasi pada asal-usul nama.
4. Kaum Mandean – “Orang-orang Kristen Of St John”

Apakah Yohanes Pembaptis pernah dikenal sebagai Yahya oleh sekelompok orang?

Kaum Mandean adalah komunitas yang hidup di Irak dan Iran, dan berbicara dengan dialek Aram (atau Mandaic seperti yang biasanya disebut dalam literatur). Mereka mengklaim sebagai pengikut Yohanes Pembaptis dan kadang-kadang (salah) disebut sebagai “orang Kristen dari St John” judul pertama kali digunakan oleh misionaris Portugis Kristen. Mereka dikenal sebagai bahasa sehari-hari Subba (Subbi tunggal). Para Subba sebutan diterima sebagai mengacu pada ritual pokok agama mereka – Baptisan dengan pencelupan. Nama yang digunakan sendiri untuk menggambarkan agama mereka dan ras adalah Mandai, atau Mandean [12].

Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita membahas secara singkat identifikasi Sabian atau Sabi’un. Telah ada banyak spekulasi tentang identifikasi Sabi’un, kelompok agama, disebutkan tiga kali dalam Al Qur’an. Para komentator Qur’an telah berteori tentang identitas yang mungkin dari kelompok ini. Kami hanya akan meringkas berbagai sudut pandang. Para pembaca yang tertarik dapat berkonsultasi subjek ini yang telah dibahas panjang lebar oleh Jane Dammen McAuliffe. [13]

Beberapa pengulas Al Qur’an telah dikreditkan Sabi’un dengan malaikat menyembah dan beberapa dengan monoteisme, yang berdoa menghadap kiblat Sabi’un, dan mereka berbeda dari Yahudi, Kristen dan Majusi. Mereka biasanya diidentifikasi dengan sekelompok orang dari Irak.

Beasiswa Barat pada identifikasi Sabi’un Al Qur’an mungkin mulai dengan karya ensiklopedik Daniel Chwolson. [14] Sebuah penjumlahan singkat pandang Chwolson itu dilakukan oleh John Pederson. [15] Chwolson mendalilkan identifikasi dua kali lipat dari Sabi’un [16]. Mandean, yang monoteis, adalah salah satu kelompok tersebut dan yang lainnya dianggap sebagai kafir penyembah bintang di Harran sejarawan Muslim yang mengklaim telah mengadopsi Sabi’un nama untuk dimasukkan dalam kategori Ahli Kitab.

Pederson Namun, mengambil pengecualian sampai dua kali lipat identifikasi Chwolson itu. Dia mengatakan Sabi’un yang harus diidentifikasi dengan Para Hanif sebagai

    Mereka juga adalah orang-orang yang percaya pada Tuhan, baik orang Yahudi maupun Kristen; model terdekat bagi orang percaya, seperti Abraham sendiri hanif [17].

Ini identifikasi oleh Pedersen muncul dengan menyamakan hanif dan gnostik. Hasil dari ini adalah bahwa ia selaras antara sebutan umum dari Mandean dan Harranians sebagai Sabi’un.

Harmonisasi Pederson adalah juga didukung oleh Drower ES;. Tapi dia mengakui dalam komunitas yang terakhir pembagian antara kelas imam, yang dikenal sebagai Nasoraeans, dan kaum awam bodoh atau semi-bodoh yang dipanggil Mandean [18] posisi Bayard Dodge adalah bahwa ada cukup bukti untuk identifikasi ini. Dia sangat nyaman dengan korelasi Sabi’un dan Mandean, tetapi di luar itu ia tidak bersedia untuk pergi dengan mengakui bahwa

    … kita tidak tahu bagaimana mereka berasal atau apa kelompok mungkin telah Sabian. [19]

Mandean memanggil guru mereka Yohanes Pembaptis Yahia Yuhana [20] Dalam buku doa kanonik mereka satu dapat membaca.:

    Raja Yahia-Yuhana,

    Penyembuhan dan kemenangan menjadi milik-Mu; [21]

Salah satu kitab suci mereka disebut Drasha d. Yahia atau Kitab Yahia. Contoh kehadiran Yahia nama dapat ditemukan dalam Kitab Yohanes (lihat bab 3 dan bab 4).

Kamus Mandaic melempar lebih jauh cahaya pada nama “iahia” dan “iuhana” yang digunakan dalam kitab suci mereka: [22]

Gambar
Gambar 

Perhatikan adanya tegas “h” di Yahia Yuhana (h “” suara di Yahia Yuhana lunak) tidak seperti rekan-rekan Arab dan bahasa Aram. Dalam dialek Aram dari Mandean, yang tegas “h” memang ada pada satu waktu;. Tapi Fokalisasi kini telah lenyap [23]

Para Yahia nama dalam Yahia Yuhana telah membingungkan banyak sarjana Barat. Menurut mereka, Yahia bukan nama bahasa Aram tetapi lebih merupakan satu bahasa Arab tetapi telah kita bahas, ada perbedaan pendapat di antara ahli bahasa Arab tentang asal dan arti dari nama Yahya. Para haya kata Arab, memiliki pasangannya dalam bahasa Aram dan Ibrani, dan tentu serumpunnya, identik dalam asal [24,25] Dalam bahasa Syria, yang hy kata kerja, (itu bentuk lampau) adalah “untuk hidup;. Sembuh; meringankan (dari nyeri) “; orang sekarang / masa depan ketiga tegang nehhe menjadi tunggal. Dan dalam bentuk lain dari bahasa Aram itu yehye atau yahye; [26] yang terakhir ini mirip dengan Yahya Arab dan dengan imalah (dalam bahasa Arab) yang dibaca Yahyei [27] Kami menyajikan Qiraa’aat berbagai ayat 19:. 7 sebagai file audio dalam format Real Audio.

    Dalam qira’at dari Hafs, itu dibaca sebagai Yahya tanpa imalah.

    Dalam qira’at dari Warsh, itu dibaca sebagai Yahyei dengan imalah.

    Dalam qira’at dari Hamzah, itu dibaca sebagai Yahyei dengan imalah.

Kembali ke bahasa Aram, kata sifat Hayya adalah “hidup, mentah (mentah), murni (tidak dicampur), mengalir (air)”, hayye adalah “kehidupan, keselamatan”, hayutha “hidup”, haywtha “hewan”, haytha “bidan” dll .

Untuk menyelesaikan teka-teki ini (yaitu kehadiran Yahia nama dalam Yahia Yuhana) sarjana Barat telah menyarankan berbagai penjelasan mulai dari Yahia nama yang dimasukkan ke dalam kitab suci di kemudian hari untuk Muslim memaksa penggunaannya pada Mandean! [28] Tidak ada teori ini didukung oleh bukti sejarah.

Ini mungkin saat yang tepat untuk membicarakan pentingnya Yahia nama dalam sastra Mandaic. Mandaean Setiap dua nama, malwasha, atau nama Zodaical, dan laqab-nya atau nama duniawi. ES Drower menjelaskan perbedaan antara nama-nama dan laqab malwasha.

    Yang terakhir ini biasanya nama Muhammad dan digunakan untuk semua tujuan awam, yang pertama [yaitu malwasha] adalah nama-Nya nyata dan spiritual dan digunakan pada semua kesempatan agama dan sihir. [29]

Jadi, dalam Yahia Yuhana, Yahia adalah nama malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah laqab atau nama berbaring seperti yang terlihat dari entri dalam kamus Mandaic. Yang menarik di sini adalah bahwa Al Qur’an hanya menggunakan nama asli dan rohani, yaitu Yahya, tetapi bagaimana dengan Yuhanna?
5. Wa min hananan ladunna …. : Atribut Dari Yahya Sebagai Disebutkan Dalam Al-Qur’an 19:13

Penggunaan Mandaean dari Yahia Yuhana untuk Yohanes Pembaptis yang cukup menarik seperti yang kita lihat dalam bagian sebelumnya. Di sini kita secara singkat akan ngelantur dan mendiskusikan beberapa atribut Yahya seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an. Al-Qur’an menyebutkan Yahya tapi bagaimana Yowchanan / Yuhanna? Kita tahu bahwa Yowchanan / Yuhanna berarti kelembutan Allah atau TUHAN (nama Ibrani dari Allah) adalah pemberi yang murah hati. Hal ini terdiri dari dua kata “Yu”, bentuk pendek dari TUHAN dalam Alkitab Ibrani dan “hanna”, berasal dari “Hanan”. Kebetulan Tuhan berfirman dalam Al Qur’an:
Gambar

 wa hananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya, i.e., ” dan rasa belas kasihan  yang mendalam  [hananan]  dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa,

Dengan kata lain, Yahya adalah hananan dari Allah, ini tidak lain adalah sebuah parafrase dari apa Yowchanan / Yuhanna sebenarnya berarti, yakni TUHAN [atau Tuhan] adalah pemberi yang murah hati! Yang lebih menarik adalah bahwa kata “hananan” terjadi hanya sekali dalam Al Qur’an, [30] yaitu dalam hubungan dengan Yahya dalam ayat di atas (19:13). Hal ini diingatkan bahwa akar kata “Hanan” memiliki arti yang sama dalam bahasa Aram, Ibrani dan Arab.

Perhatian juga harus ditarik ke Yuhanna nama. Secara etimologis, “Yu” dalam bahasa Arab tidak berarti Allah tidak seperti dalam bahasa Ibrani; sehingga membuat kata “Yuhanna” cukup berarti. Kata Arab untuk Tuhan adalah “Allah”. Tampaknya Yuhanna dipinjam ke dalam bahasa Arab baik dari Siria atau Ibrani demi penggunaan [31].

Mari kita melihat apa yang mengatakan tentang tafsir ayat 19:13. Di bawah ini adalah kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat 19:13.

Gambar 

wa hananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya, yaitu, “Dan kelembutan dari Kami dan kesucian, ia taat,”

     “Dan kelembutan dari Kami”: `Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengatakan nya wa hananan min ladunna berarti” rahmat [Bahasa Arab: rahmah] dari Kami “dan juga berbicara` Ikrimah dan Qatadah dan al-Dahhak dan ia menambahkan “Tidak ada mampu seperti [belas kasihan] kecuali Kami “. Qatadah menambahkan “rahmat dari Allah kepada Zakariyya”. Mujahid mengatakan wa hananan min ladunna berarti “sayang dari Tuhannya terhadap [bahasa Inggris??] Dia”. `Ikrimah mengatakan wa hananan min ladunna berarti” cinta pada-Nya “. Ibnu Zaid berkata: Adapun “Hanan” itu berarti cinta. `Ata ‘bin Abi Rabah berkata: wa hananan min ladunna berarti” pengagungan / elevasi dari Kami “[Bahasa Arab: ta` dhim]. Ibnu Jurayj mengatakan kepada kami, ‘Amr Ibnu Dinar menceritakan bahwa ia mendengar `menceritakan Ikrimah dari Ibnu’ Abbas dengan mengatakan:” Tidak, demi Allah, aku tidak tahu apa Hanan berarti “. Ibnu Jarir berkata: Ibnu Humaid mengatakan kepada kami, Jarir meriwayatkan kepada kami dari Mansur: Aku bertanya Sa `id bin Jubair tentang wa hananan min ladunna, ia berkata: Aku bertanya Ibnu Abbas tentang hal itu dan ia tidak tahu banyak tentang hal itu. […] [32]

Banyak referensi Islam seperti Tafsir al-Qurtubi dan Al-Itqan oleh Al-Suyuti dan lain-lain meriwayatkan laporan serupa dari Ibnu Abbas tentang “Hanan”.
6. Dari tafsir ayat 19:07

     … lam Naj `al lahu min qablu samiyya.
     … pada tidak dengan nama itu telah Kami diberikan perbedaan sebelumnya.
     [Quran 19:07]

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini:
Gambar

Terjemahan satunya adalah:

    Dan Mujahid mengatakan:

        lam Naj `al lahu min qablu samiyya,
        [Samiyya berarti] shabihan – seseorang seperti dia.

    Dia menyetir makna dari pidato Tuhan [ayat 19:65]

        … fa `budhu wastabir li` ibadatihi Hal ta `lamu lahu samiyya,
        … Maka sembahlah Dia, dan menjadi konstan dan pasien dalam ibadah-Nya: Engkau tahu, siapa pun yang [memenuhi syarat untuk menjadi] samiyya Nya?

    Arti [dari samiyya adalah] shabihan – seseorang seperti dia.

    `Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang artinya: Tidak ada wanita mandul melahirkan seseorang seperti dia sebelumnya.

    Ini juga membuktikan bahwa Zakariyya adalah steril [33] sebagai istrinya [yang steril dari awal hidupnya] tidak seperti Abraham dan Sarah. Alasan mereka [Abraham dan Sarah] kagum kabar gembira tentang Ishak adalah karena usia tua mereka dan bukan untuk infertilitas. Inilah sebabnya mengapa Abraham berkata [dengan takjub]:

        abashshartumuni `ala sebuah massaniya al-kibaru fabima tubashshirun,
        yaitu, Apakah kamu memberi saya kabar gembira meskipun usia tua telah menangkap aku? Dari apa, kemudian, adalah kabar baik Anda? [Ayat 15:54]

    meskipun memiliki Isma `il 13 tahun sebelumnya.

    Demikian juga, istrinya berkata:

        ya waylata a’alidu wa ana `ajuzun wa ba` hadha li shaykhan inna hadha lashay’un `ajib. Qalu ata `jabina min amrillahi rahmatullahi wa barakatuhu` alaykum ahla al-Bayti innahu hamidun Majid,
        yaitu, Dia berkata: “Celakalah aku harus saya memiliki anak, padahal aku seorang wanita tua, dan suami saya di sini adalah seorang pria tua itu memang akan menjadi hal yang luar biasa!?!”. Mereka berkata: “maka kamu heran tentang ketetapan Allah Kasih karunia Allah dan berkat-Nya pada Anda, o kamu orang rumah Untuk Dia memang layak menerima pujian semua, penuh kemuliaan semua [ayat 11:72-73]?! . [34]

Kata kunci di sini adalah samiyya dan analisis rinci dari kata ini diberikan dalam Lampiran A. Para samiyya kata hanya terjadi dua kali dalam Al Qur’an: [35] di 19:07 ayat sehubungan dengan Yahya dan 19:65 di referensi kepada Allah.

Menggunakan metode yang menggunakan Qur’an untuk menjelaskan Al-Qur’an, Ibnu Katsir mendorong rumah titik bahwa kelahiran Yahya tidak seperti kelahiran yang lain. Penjelasan ini juga didukung oleh hadits dari Ibn `Abbas. Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah bahwa tidak pernah ada seorang anak mirip dengan Yahya dalam arti yang lahir dari ayah dan ibu berusia tandus. Meskipun Ishak lahir dari orangtua yang juga tua, keduanya tidak subur. Ini adalah alasan inilah Ishak tidak seperti Yahya dalam kelahirannya.

Dan al-Suyuti mengatakan berikut dalam tafsirnya:
Gambar

Terjemahan satunya adalah:

    HR. al-Faryabi dan Ibn Abi Shaybah dan `Abd Ibnu Humaid dan Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Hatim dan al-Hakim yang menyatakan itu sahih bahwa Ibn` Abbas mengatakan: lam Naj `al lahu min qablu samiyya.

    Diriwayatkan `Abd ar-Razzaq dan Ahmad di Al-Zuhd dan` Abd Ibnu Humaid bahwa Qatadah berkata tentang lam Naj `al lahu min qablu samiyya.

    Ahmad meriwayatkan laporan yang sama di Al-Zuhd dari jalan `Ikrimah. Ibn al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata tentang lam Naj `al lahu min qablu samiyya:” Tidak ada wanita mandul melahirkan anak seperti dia “.

    Diriwayatkan Ahmad di Al-Zuhd dan `Abd Ibnu Humaid dan Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Hatim bahwa Sa` id Ibn Jubayr mengatakan tentang lam Naj `al lahu min qablu samiyya: Dia berkata: [samiyya berarti] shabihan – seseorang seperti dia.

    `Abd Ibnu Humaid meriwayatkan sebuah laporan serupa dari jalan` Ata ‘. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh-nya dari Yahya Ibnu al-Khallad Zarqi bahwa ketika dia [Yahya] lahir, ia dibawa kepada Nabi (P) yang memberinya makan yang dikunyah tanggal dan berkata: “Aku akan memberinya nama yang pernah diberikan [kepada siapa pun] sebelumnya: Yahya Ibnu Zakariyya “dan ia memanggilnya Yahya [36].

Dari uraian di atas, kita melihat bahwa ulama memegang dua pendapat tentang ayat lam Naj `al lahu min qablu samiyya:

   1. Samiyy, berarti shabihan atau mithlan, yaitu, seseorang seperti dia. Ayat ini ditafsirkan bahwa kelahiran Yahya tidak seperti kelahiran orang lain, karena ia lahir dari ayah dan ibu berusia tandus.

   2. Tidak ada yang sebelum kelahiran Yahya yang pernah diberikan nama yang oleh Allah.

Al-Tabari menyediakan laporan untuk kedua interpretasi, tapi opines bahwa yang terakhir tampaknya lebih benar. Al-Qurthubi menyebutkan pendapat kedua tetapi tidak mengekspresikan preferensi. Dan Ibnu Katsir, yang mengutip pendapat al-Tabari (lihat di atas), juga tidak mengekspresikan preferensi apapun.
7. Kesimpulan

Geiger dan para misionaris Kristen telah menunjuk sebuah kesulitan yang timbul di 19:07 ayat mana lahirnya Yahya diumumkan. Menurut pemahaman mereka, nama Yahya adalah setara Arab dengan nama Yohanes. Mereka juga memahami bahwa Yahya adalah nama unik, dan tidak ada manusia sebelum kelahiran Yahya pernah memiliki nama seperti itu. Namun, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua puluh lima referensi ke nama Yohanes, dan itu untuk alasan ini bahwa Al Qur’an adalah salah.

Studi ini telah menunjukkan secara meyakinkan bahwa Yahya nama dan Yohanes (Yuhanan atau Yuhanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda berasal dari dua akar yang berbeda. Geiger dan para misionaris telah gagal untuk menyelidiki asal-usul bahasa dari dua nama, dan telah salah menyimpulkan bahwa Al Qur’an adalah salah.

Ayat di 19:07 yang berbunyi lam Naj `al lahu min qablu samiyya dapat ditafsirkan dengan dua cara:

   1. Samiyy, berarti shabihan atau mithlan, yaitu, seseorang seperti dia. Ayat ini ditafsirkan bahwa kelahiran Yahya tidak seperti kelahiran orang lain, karena ia lahir dari ayah dan ibu berusia tandus.

   2. Para Yahya nama adalah unik, dan tidak ada sebelum kelahiran Yahya yang pernah diberikan seperti nama oleh Allah, titik mudah diabaikan oleh para misionaris.

Apakah Yahya juga disebut Yowchanan [atau Yuhanna]? Tampaknya menjadi lebih, dan Tuhan tahu yang terbaik. Ini adalah melalui Mandean kita mendapatkan nama ganda Yahia Yuhana. Menurut literatur Mandaic Yahia adalah nama malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah laqab atau nama awam. Al-Qur’an hanya menggunakan nama asli dan rohani, yaitu Yahya; Yuhanna dinyatakan sebagai parafrase dalam ayat 19:13 mungkin karena kenyataan bahwa “Yu” dalam bahasa Arab tidak berarti Tuhan, sehingga membuat kata “Yuhanna “etimologis berarti. Agaknya, “Yuhanna” dipinjam ke dalam bahasa Arab melalui sumber Ibrani atau bahasa Syria.

Menariknya, Judaica Ensiklopedia bawah entri ‘Yohanes Pembaptis’ [37] menyebutkan hanya nama Arab: Yahya bin Zakariyya. Ada berikut ada diskusi mengenai nama, tidak seperti entri untuk Musa, Yesus dll

Penggunaan nama Yahia Yuhana antara Mandean tentu menarik. Juga harus dicatat bahwa banyak literatur mereka yang masih hidup relatif terlambat. Ada memang ada mangkuk mantera Mandaean yang tanggal dari periode pra-Islam. [38] Penelitian lebih lanjut dan penemuan akan semakin menyinari asal-usul sastra Mandaic, Insya Allah.

Sekali lagi para misionaris Kristen telah gagal untuk menunjukkan sebuah “sejarah” kontradiksi dalam Al Qur’an. Apakah mereka mau repot-repot menyelidiki kontroversi ini, bahkan sedikit, mereka tidak akan membuat kesalahan seperti itu. Tapi seperti berdiri, ada preferensi di antara misionaris Kristen secara membuta mengikuti polemik murah setiap, dan telah ini “kontradiksi” tidak begitu banyak beredar, kami tidak akan terganggu dengan tanggapannya.

Dan seperti biasa Allah tahu yang terbaik!

Ucapan Terima Kasih

Salah satu penulis (MSMS) mengucapkan terima kasih kepada Profesor Robert Hoberman, Dr Geoffery Khan dan Mr Syibli Zaman untuk merangsang diskusi tentang linguistik komparatif.

Profesor Robert Hoberman dan Dr Geoffery Khan tidak berhubungan dengan Kesadaran Islam.

Lampiran A

Catatan yang dibuat oleh al-Tabari dalam tafsirnya tentang pola samiyy menjadi fa `il mendorong kami untuk mencari akarnya dalam leksikon Arab. Berikut adalah beberapa kutipan menarik dari leksikon Lisan terkenal Arab al-‘Arab. Kami tidak mengutipnya secara keseluruhan, karena panjang tidak perlu: [39]

Terjemahan satunya adalah:

     Sesuatu “ism” [yaitu, namanya], dan “sam”, “sim”, “jumlah” dan “sama” adalah [khas] nya tanda.

     Dalam Al-Tahdhib: alif dari “isme” diklasifikasikan sebagai “alif Wasl” [yaitu, bukan milik root] dan bukti adalah bahwa bentuk kecil adalah “sumayy”.

     Orang-orang Arab mengatakan “hadha-SMUN mawsul” dan “hadha [?]”.

     Al-Zajjaj berkata: Makna kata “ism” [yaitu, namanya] berasal dari “as-sumuww” yang Mulia. Dia berkata: asal itu adalah “simw” [yaitu huruf ketiga dari kata itu adalah waw dihilangkan] seperti kata “qinw” dan [jamak] “‘aqna”.

     Al-Jawhari berkata: “ism” [yaitu, namanya] berasal dari “samawtu” karena itu menandakan Mulia dan pola itu adalah “jika` “, dan huruf dihilangkan adalah waw karena jamak itu adalah” asma ‘”dan yang bentuk kecil adalah “sumayy”. Ada ketidaksepakatan pada pola asalnya. Beberapa mengatakan: “fi` l “dan yang lain mengatakan” fu `l” dan jamak “asma ‘” mungkin bagi pola ini juga digambarkan dalam “jidh` “dan” ajdha `” dan “qufl” dan “aqfal” dan ini tidak dapat diselesaikan kecuali melalui mendengarkan [ke Arab asli] dan memiliki empat cara: “isme” dan “USM” dengan u, dan “sim” dan “sum”.

Dan akan lebih lanjut kita lihat:

 

Dan “samiyy” Anda orang yang menyandang nama Anda. Anda berkata: Dia adalah “samiyy” dari seseorang ketika nama mereka dapat ditemukan seperti ketika Anda mengatakan itu “kaniyy” [untuk orang yang memiliki julukan sama].

    Dan dalam Kitab Suci: lam Naj `al lahu min qablu samiyya: Tidak ada di depannya adalah ‘samiyy’ nya;

    Ibnu Abbas mengatakan: Tidak sebelum dia diberi nama Yahya. Ia juga mengatakan: Ini berarti tidak ada di hadapannya itu setara dengan dia atau menyukainya. Ia juga berkata: Ia disebut Yahya karena dia “haya” hidup dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Sehubungan dengan pidato Mahakuasa: Hal ta `lamu lahu samiyya, yaitu,” Engkau tahu, siapa pun yang [memenuhi syarat untuk menjadi] samiyy-Nya? ” yang berarti “Nadhir” [yaitu, setara] yang layak nama yang sama.

Dari kutipan di atas, kita belajar samiyy yang berasal dari “dosa + mim + waw” root yang mengacu Mulia dan elevasi. Selain semua rincian linguistik, ketika kita sampai ke akar, kita belajar bahwa kata samiyy memiliki dua arti. Artinya “senama” dan juga dapat mengacu pada setara seperti atau seseorang. Kedua makna dibahas dalam literatur tafsir.

Referensi

[1] A. Geiger, Yudaisme dan Islam (Terjemahan Bahasa Inggris Dari Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?), 1970, KTAV Publishing House Inc: New York, hal 19.

[2] Jalaluddin `Abd ar-Rahman al-Suyuti, Itqan fi Al-` Ulum al-Qur’an, 1987, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut, Edisi Pertama, Volume 2, Bagian 69: “Para Nama , Surnames dan Judul yang Terjadi dalam Al Qur’an “, hal 304-305.

[3] P. Casanova, “Idris et Ouzaïr”, Journal Asiatique, 1924, Volume CCV, hal. 357. Karena kita di bukan terjemahan resmi, kami mempublikasikan asli.

    Aussi ai-je hésité longtemps pengusul à koreksi les qui saya vraisemblables paraissaient. Ce qui saya memutuskan aujourd’hui, c’est que, je dois le constater, les érudits occidentaux tendent de plus en ditambah à s’affranchir du hormat superstitieux qu’ils avaient jusqu’alors pour l’intégrité Absolue du Coran et qu ‘un savant sémitisant allemand, feu Barth sebuah mengusulkan putra tur des koreksi assez importantes, entre autres une qui m’intéresse particulièrement, mobil il ya que longtemps j’y avais pensé et je suis Heureux de la voir penerima hadiah, mengatakan que je l ‘avais imaginée moi-même. C’est la koreksi Youhanna pour Yahya Youhanna au pengganti de Yahya, nom de saint Jean-Baptiste. Je n’osais pas la Publier, d’abord pour la raison générale énoncée ditambah haut, mandi parce qu’elle entraine une curieuse konsekuensi. En effet, les Mandaïtes ou pseudo-Chrétiens de saint Jean, qu’on identifie aux Sabiens du Coran, ONT un livre ou Leur utama Prophete est appelé Yahio. Si ce nom est à une du erreur de kuliah des rédacteurs du Coran, le livre est nécessairement postérieur à la du Coran difusi canonique et Toutes les teori édifiées sur cette s’écroulent identifikasi.

[4] D. Margoliouth, “Asal Usul Dari Puisi Arab”, Jurnal The Royal Asiatic Society, 1925, hlm 417-449.

[5] A. Mingana, “Pengaruh Syria On The Style Of The Alquran”, Bulletin Of The John Rylands Library Manchester, 1927, Volume II, hal. 78.

[6] D. Margoliouth, “Variasi Tekstual Of The Quran”, Dunia Islam, 1925, Volume XV, hal. 343.

[7] A. Mingana, “Pengaruh Syria On The Style Of The Alquran”, Bulletin Of The John Rylands Library Manchester, 1927, op. cit, hal.. 84.

[8] Ibid.

[9] Arthur Jeffery, The Kosakata Asing Dari Al-Qur’an, 1938, Oriental Institute: Baroda, hal. 290.

[10] Ibid, hal.. 291.

[11] CC Torrey, Yayasan Yahudi Of Islam, 1967, KTAV Publishing House, Inc New York, hal 50-51.

[12] rincian lebih lanjut mengenai komunitas ini dapat ditemukan di Ensiklopedia Britannica bawah Mandaeanism. Dan informasi tentang keyakinan mereka dapat ditemukan di sini.

[13] JD McAuliffe, “Identifikasi Eksegetis Of The Sabi’un”, Dunia Islam, 1982, Volume LXXII, hal 95-106.

[14] DA Chwolson, Die Ssabier und der Ssabismus (Dalam dua jilid), 1856, St Petersburg.

[15] J. Pedersen, “The Sabian” di TW Arnold & R. A Nicholson (editor), A Volume Of Studi Oriental Disajikan Untuk Edward G. Browne Pada Ulang Tahun ke-60 nya,, 1922 Cambridge Pada Press University, hlm 383 -391.

[16] Lihat juga artikel Vaux untuk beberapa dukungan untuk hipotesis ini. B. Carra De Vaux, “Al-Sabi’a”, Encyclopaedia Of Islam (Edisi Lama), 1934, EJ Brill Penerbit: Leiden & Luzac & Co: London, hal. 387.

[17] J. Pedersen, “The Sabian”, di TW Arnold & R. A Nicholson (editor), A Volume Of Studi Oriental Disajikan Untuk Edward G. Browne Pada Ulang Tahun ke-60 nya,, 1922 op. cit, hal.. 387.

[18] ES Drower, Adam Rahasia: Kajian Nasoraean Gnosis,, 1960 Oxford Clarendon Press Pada, hal. ix.

[19] B. Dodge, “The Sabian Tentu Harran” dalam Fu’ad Sarruf & Suha Tamim (Eds.), American University Of Buku Beirut Festival 1967, hal. 63.

[20] ES Drower, The Mandean Dari Irak Dan Iran, 1962, EJ Brill: Leiden, hal 2-3.

[21] ES Drower, Buku Doa Canonical Of The Mandean, 1959, EJ Brill: Leiden, hal. 106. Lihat juga hal. 152.

[22] ES Drower & R. Macuch, Kamus Mandaic, 1963, Oxford Pada Press Clarendon, lihat hal. 185 untuk ‘iahia’ dan p. 190 untuk ‘iuhana’.

[23] ibid, hal.. 171.

[24] C. Brockelmann, Syriacum Leksikon, 1928, Halix Saxonum, Sumptibus Max Niemeyer, hal 228-229. Lihat juga hal. 220.

[25] J. Payne Smith (ed.), Kamus Ringkas Suryani, 1967, Oxford Pada Press Clarendon, hal 138-139.

[26] Kami berterima kasih kepada Profesor Robert Hoberman untuk menunjukkan ini.

[27] `Alawi bin Muhammad bin Ahmad Bilfaqih Al-qira’at al-‘Ashr al-Mutawatir, 1994, Dar al-Muhajir, hal. 305. Dalam Qiraa’aat, misalnya, dari Hamzah, al-Kisa’i, Warsh dan Khalaf, dengan imalah yang dibaca Yahyei. Dalam Qiraa’aat Hafs, itu dibaca sebagai Yahya tanpa imalah.

[28] EM Yamauchi, Etika Dan Origins Gnostik Mandaean, 1970, Harvard University Press: Cambridge (MA), hal. 5.

[29] ES Drower, The Mandean Dari Irak Dan Iran, 1962, op. cit, hal.. 81.

[30] Muhammad Fu’ad `Abd al-Baqi, Al-Mu` ahjam al-Mufahris li al-FADH al-Qur’an al-Karim, 1997, Dar al-Fikr: Beirut (Libanon), hal. 279.

[31] Kami berterima kasih kepada Profesor Hoberman dan Dr Geoffery Khan untuk pembahasan rinci tentang isu-isu seputar etimologis kata “Yuhanna” baik dalam bahasa Ibrani dan Arab.

[32] Tafsir Ibnu Katsir, tersedia secara online.

[33] Ini adalah pernyataan yang agak aneh oleh Ibn Kathir tidak didukung oleh bukti.

[34] Tafsir Ibnu Katsir, tersedia secara online.

[35] Muhammad Fu’ad `Abd al-Baqi, Al-Mu` ahjam al-Mufahris li al-FADH al-Qur’an al-Karim, 1997, op. cit, hal.. 451.

[36] Jalaluddin `Abd ar-Rahman al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, download dari al-Muhaddith website.

[37] Di bawah “Yohanes Pembaptis”, Encyclopaedia Judaica (CD-ROM Edition) 1997, Judaica Multimedia (Israel) Limited.

[38] WS McCullough, Bowl Incantation Yahudi Dan Mandaean Di Royal Ontario Museum, 1967, University Of Toronto Press. Lima terakota mangkuk dibahas dalam buku ini.

[39] Ibnu Mandhur, Lisan al-‘Arab, download dari al-Muhaddith website.


 

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Alah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.’ Sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia sedang Allah lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.” (QS. Al-Ahzab: 37)

Maka mayoritas ahli tafsir banyak membicarakan tentang sebab pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha dan tentang sesuatu yang disembunyikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hatinya.

Mereka menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi rumah Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu untuk mencarinya, tetapi ternyata dia sedang keluar rumah. Tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Zainab bin Jahsy radhiallahu ‘anha tengah berdiri mengenakan kerudung, dan dia adalah termasuk wantia Quraisy yang paling cantik. Nabi pun tertarik dan jatuh cinta padanya, kemudian beliau pergi seraya mengatakan, “Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang membolak-balik hati.’

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari Qotadah bahwa beliau mengatakan: “Yang disembunyikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hatinya adalah harapan seandainya Zaid radhiallahu ‘anhu menceraikannya.”

Derajat Kisah

BATHIL. Kisah ini secara sanad adalah bathil sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, di antaranya:

  1. Imam Ibnul Arobi berkata: “Riwayat-riwayat ini, semua sanadnya jatuh dan bathil.”
  2. Imam Ibnu Katsir berkata, “Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim menyebutkan atsar-atsar dari salaf tentang hal ini, kami tidak ingin mencantumkannya di sini karena semua tidak shahih.”
  3. Syaikh Dr. Muhammad Abu Syuhbah berkata bahwa kisah ini bathil, tidak memiliki penguat secara dalil maupun akal dan hanyalah kisah buatan musuh-musuh agama. Oleh karenanya kisah ini tidak disebutkan kecuali oleh ahli tafsir dan ahli sejarah yang hanya meriwayatkan semua berita baik yang shahih maupun lemah dan tidak ada dalam kitab-kitab hadis yang terpercaya.”

Selanjutnya beliau mengatakan, “Kesimpulannya, kalau memang kisah ini keadaannya seperti yang Anda lihat, yakni tidak memiliki sanad dan bertentangan dengan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak tersisa kecuali bahwa kisah ini adalah palsu.”

Mengkritisi Matan Kisah

Kisah ini dimanfaatkan dengan baik oleh orang-orang kafir dan sejawatnya dari orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mementingkan kebutuhan seksual sehingga sampai hati menyuruh anak angkatnya sendiri menceraikan istrinya agar dia bisa menikahi istrinya hanya sekedar untuk kepuasan seksual!

Subhanallah!! alangkah kotornya ucapan yang keluar dari mulut mereka! Mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan.

Tahukah mereka, seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi karena kebutuhan seksual semata niscaya beliau akan memilih para gadis yang lebih cantik?! Tahukah mereka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sering melihat Zainab radhiallahu ‘anhu sejak kecilnya?! Lantas, apakah masuk akal kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru melakukan hal itu setelah pernikahan Zainab radhiallahu ‘anha dengan Zaid?

Sesungguhnya akal sehat manusia pasti akan mengingkari hal ini. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Nabi yang dikenal di tengah-tengah kaumnya memiliki akhlak yang mulia dan tinggi, amanah, dan jujur sehingga mendapatkan pujian langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala? Lantas, mungkinkah setelah itu beliau memiliki hubungan rusak seperti itu?

Barangsiapa yang mau adil dan mempelajari sejarah sebab pernikahan dan poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya dia akan mengetahui secara pasti bahwa pernikahan dan poligami beliau dibangun di atas hikmah-hikmah yang mengagumkan. Seperti penyebaran Islam, membantu wanita janda yang lemah, menjelaskan sebuah hukum syariat dan lain sebagainya. Jadi bukan hanya sekadar kepuasan seksual semata seperti tuduhan orang-orang yang benci kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Tafsir yang Benar

Pendapat yang benar bahwa maksud sesuatu yang disembunyikan dalam hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berita dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau bahwa Zainab radhiallahu ‘anha kelak akan menjadi istrinya.

Imam Az-Zuhri berkata, “Jibril turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada beliau bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menikahkannya dengan Zainab binti Jahsy radhiallahu ‘anha, itulah yang disembunyikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hatinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Kesimpulannya bahwa yang disembunyikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berita Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Zainab binti Jahys radhiallahu ‘anhu, akan menjadi istrinya. Sedangkan yang membuat beliau menyembunyikan hal itu adalah karena beliau khawatir omongan orang bahwa beliau menikahi istri anaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin membatalkan keyakinan Jahiliyah seputar hukum menikahi mantan istri anak angkat yang dipraktikkan sendiri oleh imam kaum muslimin sehingga lebih mudah diterima oleh mereka.”

Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun Ke-9 1431 H/2010 M

Artikel www.KisahMuslim.com


Bismillahir-Rahmaanir-Rahiim

Kisah Dusta Tentang Sebab Pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Alah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.’ Sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia sedang Allah lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.” (QS. Al-Ahzab: 37)

Maka mayoritas ahli tafsir banyak membicarakan tentang sebab pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha dan tentang sesuatu yang disembunyikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hatinya.

Mereka menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi rumah Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu untuk mencarinya, tetapi ternyata dia sedang keluar rumah. Tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Zainab bin Jahsy radhiallahu ‘anha tengah berdiri mengenakan kerudung, dan dia adalah termasuk wantia Quraisy yang paling cantik. Nabi pun tertarik dan jatuh cinta padanya, kemudian beliau pergi seraya mengatakan, “Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang membolak-balik hati.’

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari Qotadah bahwa beliau mengatakan: “Yang disembunyikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hatinya adalah harapan seandainya Zaid radhiallahu ‘anhu menceraikannya.”

Derajat Kisah

BATHIL. Kisah ini secara sanad adalah bathil sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, di antaranya:

  1. Imam Ibnul Arobi berkata: “Riwayat-riwayat ini, semua sanadnya jatuh dan bathil.”
  2. Imam Ibnu Katsir berkata, “Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim menyebutkan atsar-atsar dari salaf tentang hal ini, kami tidak ingin mencantumkannya di sini karena semua tidak shahih.”
  3. Syaikh Dr. Muhammad Abu Syuhbah berkata bahwa kisah ini bathil, tidak memiliki penguat secara dalil maupun akal dan hanyalah kisah buatan musuh-musuh agama. Oleh karenanya kisah ini tidak disebutkan kecuali oleh ahli tafsir dan ahli sejarah yang hanya meriwayatkan semua berita baik yang shahih maupun lemah dan tidak ada dalam kitab-kitab hadis yang terpercaya.”

Selanjutnya beliau mengatakan, “Kesimpulannya, kalau memang kisah ini keadaannya seperti yang Anda lihat, yakni tidak memiliki sanad dan bertentangan dengan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak tersisa kecuali bahwa kisah ini adalah palsu.”

Mengkritisi Matan Kisah

Kisah ini dimanfaatkan dengan baik oleh orang-orang kafir dan sejawatnya dari orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mementingkan kebutuhan seksual sehingga sampai hati menyuruh anak angkatnya sendiri menceraikan istrinya agar dia bisa menikahi istrinya hanya sekedar untuk kepuasan seksual!

Subhanallah!! alangkah kotornya ucapan yang keluar dari mulut mereka! Mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan.

Tahukah mereka, seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi karena kebutuhan seksual semata niscaya beliau akan memilih para gadis yang lebih cantik?! Tahukah mereka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sering melihat Zainab radhiallahu ‘anhu sejak kecilnya?! Lantas, apakah masuk akal kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru melakukan hal itu setelah pernikahan Zainab radhiallahu ‘anha dengan Zaid?

Sesungguhnya akal sehat manusia pasti akan mengingkari hal ini. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Nabi yang dikenal di tengah-tengah kaumnya memiliki akhlak yang mulia dan tinggi, amanah, dan jujur sehingga mendapatkan pujian langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala? Lantas, mungkinkah setelah itu beliau memiliki hubungan rusak seperti itu?

Barangsiapa yang mau adil dan mempelajari sejarah sebab pernikahan dan poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya dia akan mengetahui secara pasti bahwa pernikahan dan poligami beliau dibangun di atas hikmah-hikmah yang mengagumkan. Seperti penyebaran Islam, membantu wanita janda yang lemah, menjelaskan sebuah hukum syariat dan lain sebagainya. Jadi bukan hanya sekadar kepuasan seksual semata seperti tuduhan orang-orang yang benci kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Tafsir yang Benar

Pendapat yang benar bahwa maksud sesuatu yang disembunyikan dalam hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berita dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau bahwa Zainab radhiallahu ‘anha kelak akan menjadi istrinya.

Imam Az-Zuhri berkata, “Jibril turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada beliau bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menikahkannya dengan Zainab binti Jahsy radhiallahu ‘anha, itulah yang disembunyikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hatinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Kesimpulannya bahwa yang disembunyikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berita Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Zainab binti Jahys radhiallahu ‘anhu, akan menjadi istrinya. Sedangkan yang membuat beliau menyembunyikan hal itu adalah karena beliau khawatir omongan orang bahwa beliau menikahi istri anaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin membatalkan keyakinan Jahiliyah seputar hukum menikahi mantan istri anak angkat yang dipraktikkan sendiri oleh imam kaum muslimin sehingga lebih mudah diterima oleh mereka.”

Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun Ke-9 1431 H/2010 M

Artikel www.KisahMuslim.com

Mengenal Islam Ibadhi


Bismillahirrahmanirrahim

The Ibāī movement, Ibadism or Ibāiyya (Arabic: الاباضية al-Ibāḍiyyah) adalah sebuah bentuk Islam yang berbeda dari Sunni dan Syiah. Penganut Ibadi dominan di Oman (mencapai 75 %) dan Zanzibar, Tanzania. Ada juga kaum Ibadi di antaranya Pegunungan Nafusa di Libya, Mzab di Aljazair, Pulau Djerba di Tunisia.

Dipercaya sebagai salah satu mazhab paling awal, dikatakan bahwa telah didirikan sejak kurang dari 50 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Beberapa sejarawan berpikir bahwa mazhab ini dikembangkan dari sekte Islam abad ketujuh yang dikenal sebagai Khawarij.

Asal Mula

Mazhab ini mengambil namanya dari Abdullah ibn Ibadh at-Tamīmī. Para pengikut sekte ini, walaupun demikian, menyatakan pendiri mereka adalah Jabir ibn Zaid al-‘Azdi dari Nizwa, Oman.

Pandangan

Komunitas Ibadi secara umum dianggap sebagai orang-orang konservatif, sebagai contoh Ibadiyya menolak praktik doa qunut ketika shalat.

Secara tradisional, kaum Muslim Sunni menganggap bahwa kaum Ibadi adalah orang-orang Khawarij, tapi kaum Ibadi menolak penunjukan ini. Kaum Ibadi menganggap kaum Muslimin yang lain bukan sebagai kafir  (seperti kebanyakan kebiasaan kaum Khawarij), akan tetapi sebagai kuffar an-ni’ma “orang-orang yang menolak karunia Allah”, walaupun sekarang sikap ini telah dilonggarkan.

Mereka percaya bahwa sikap seorang yang beriman kepada orang yang lain diekspresikan dalam tiga kewajiban agama:

  • walāyah: persahabatan dan persatuan dengan kaum yang beriman, dan dengan para Imam Ibadi.
  • barā’ah: pemisahan diri (tapi bukan permusuhan) terhadap orang-orang kafir dan para pelaku dosa, dan orang-orang yang ditakdirkan masuk Neraka.
  • wuqūf: reservasi terhadap yang mempunyai status yang tidak jelas.

Tidak seperti Kaum Khawarij, Ibadi telah menolak praktik tidak berasosiasi dengan Muslim lainnya

Perbedaan-perbedaan doktrin dengan kaum Sunni

Ibadis juga memiliki beberapa doktrin yang berbeda dengan Islam Sunni, utamanya:

  • Kaum Muslimin tidak akan melihat Allah pada Hari Penghakiman. Hal ini diambil dari Al Qur;an dimana Nabi Musa diberitahu Allah ketika beliau ingin melihatNya, “Engkau tidak akan melihatKu.” Hal ini berbeda  dengan kepercayaan dasar Sunni bahwa Kaum Muslimin akan melihat Allah dengan mata mereka pada Hari Penghakiman[2]. Hal ini cocok dengan keyakinan Muslim Syiah. Imam Ali berkata  “Mata tidak dapat melihatNya, tetapi Dia akan dapat dilihat oleh realitas keimanan” Nahj al-Balagha.
  • Barangsiapa yang masuk Neraka, maka dia akan kekal di dalamnya. Hal ini berbeda dengan keyakinan Sunni bahwa kaum Muslimin yang masuk Neraka akan hidup di dalamnya selama waktu yang ditetapkan padanya, untuk menyucikan mereka dari segala kekurangannya, dan setelah itu mereka akan masuk Surga. Kaum Sunni juga percaya, bahwa orang-orang yang tidak percaya kepada Keesaan Tuhan anpa menyekutukanNya, akan tinggal dalam Neraka selamanya.
  • Al Qur’an diciptakan oleh Allah pada beberapa waktu tertentu. Kaum Sunni menekankan bahwa Al Qur’an tidak diciptakan, seperti yang dicontohkan melalui penderitaan  Imam Ahmad ibn Hanbal selama Mihna mempertahankan bahwa Al Qur’an bukan makhluk. Banyak dari kaum Syiah juga menekankan bahwa Al Qur’an diciptakan, salah satu dari banyak kepercayaan teologi yang sama dengan paham Mu’tazilah.
  • Pandangan terhadap sejarah Islam dan kekhalifahan

 

 

Kaum Ibadi setuju dengan Kaum Sunni dalam pengakuan terhadap Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab sebagai Khulafaur Rasyidin. Mereka menganggap Uthman ibn Affan sebagai orang yang telah memperkenalkan bid’ah ke dalam Islam, dan menyetujui pemberontakan yang menggulingkan beliau . Mereka juga mengakui bagian pertama kekhalifahan Ali, dan seperti Syiah, tidak menyetujui pemberontakan Aisyah melawan beliau dan juga tidak menyetujui pemberontakan Muawiyah. Meskipun, mereka menganggap penerimaan proses pengikutsertaan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan Ali pada Perang Shiffin melawan pemberontak-peberontak Muawiyah sebagai tidak Islami dan sebagai memberikan beliau tidak pantas untuk imamat, dan mereka mengutuk Ali atas pembunuhan kaum Muslimin pada an-Nahr dalam Perang Nahrawan.

Dalam keyakinan mereka, Khalifah sah kelima adalah Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Semua Khalifah dari Muawiyah seterusnya dianggap sebagai tiran kevuali Umar ibn Abdul Aziz, pada opini yang berbeda. Akan tetapi, berbagai pemimpin Ibadi kemudian dihargai sebagai para imam yang benar, termasuk Abdullah ibn Yahya al-Kindi dari Arabia Selatan dan imam-imam dari dinasti Rustamid di Afrika Utara.

Padangan terhadap hadits

Kaum Islam Ibadi (ditemukan terutama di kerajaan Arabia Oman) menerima banyak hadits dari Sunni, walau yang lain juga ditolak, dan menerima beberapa hadits yang tidak diterima oleh Sunni. Yurispundensi Ibadi berdasar hanya atas hadits yang diterima Kaum Ibadi, yang jumlahnya far less daripada yang diterima Kaum Sunni. Beberapa figure pendiri kepercayaan Ibadi – utamanya Jabir ibn Zayd – diperhatikan dalam pencarian hadits mereka, dan Jabir ibn Zayd diterima sebagai periwayat yang dapat diandalkan oleh cendekiawan Sunni maupun Ibadi.

Kumpulan hadits yang utama diterima oleh Ibadi adalah al-Jami’i al-Sahih[dead link], juga disebut Musnad al-Rabi ibn Habib, seperti yang disusun kembali oleh Abu Ya’qub Yusuf b. Ibrahim al-Warijlani. Kebanyakan hadits tersebut dikabarkan oleh Kaum Sunni, walaupun beberapanya tidak. Aturan-aturan digunakan untuk menentukan kesahihan sebuah hadits yang diberikan oleh Abu Ya’qub al-Warijlani, dan  secara luas serupa dengan yang digunakan Kaum Sunni: mereka mengkritik beberapa Sahabat Nabi Muhammad, mereka percaya bahwa beberapa hadits diubah setelah masa kekuasaan dua khalifah pertama. Ahli hokum Ibadi menerima periwayatan hadits perkataan para sahabat sbagai sumber ketiga untuk peraturan resmi, di samping Al Qur’an dan hadits yang berhubungan dengan perkataan Nabi Muhammad.

Terjemahan Bebas Galih Saputra Duke of Merovingian  yang bersumber dari http://en.wikipedia.org/wiki/Ibadi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers