Assalamu’alaykum wr. wb

Pada imamat 11

http://alkitab.sabda.org/bible.php?book=Im&chapter=11

Pada ulangan 14

http://alkitab.sabda.org/bible.php?book=Ul&chapter=14

Kristener sekarang ini menganggap Babi dan binatang haram sejenisnya yg telah di atur pada imamat 11 dan ulangan 14 telah menjadi HALAL berdasarkan dalih2 mereka. Mari kita simak uraian di bawah ini:

(Pertama tama)

Kristener sering berdalih bahwa imamat 11 dan ulangan 14 adalah hukum tentang makanan yang dibuat hanya di tujukan kepada orang Israel Supaya Israel berbeda dari bangsa2 lain. Karena banyak hewan2 yg dilarang itu adalah mahluk2 tahyul dan diberhalakan oleh bangsa2 lain, juga Untuk mengajarkan bangsa Israel mana yang suci dan mana yg tidak suci di tengah2 mereka dan semua itu dilakukan untuk mendidik orang Israel supaya taat.

Tetapi jika hal ini benar, maka mengapa Tuhan membuat perbedaan yang sama di zaman Nuh itu?

Dan mengapa Tuhan perintahkan Nuh mengambil tujuh pasang binatang halal kapal bahtera untuk dimasukkan ke kapal bahtera nya..?

Terjemahan baru (TB)

KEJADIAN 7 mengenai nabi nuh yg di perintahkan memasukkan binatang haram dan halal

7:1

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.

7:2

Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya;

KJV

7:1Then the LORD said to Noah, “Come into the ark, you and all your household, because I have seen [that] you [are] righteous before Me in this generation.

7:2″You shall take with you seven each of every clean animal, a male and his female; two each of animals that [are] unclean, a male and his female;

Terjemahan Lama

7:1Hata, maka kemudian dari pada itu berfirmanlah Tuhan kepada Nuh: Masuklah engkau serta segala isi rumahmupun ke dalam bahtera, karena engkaulah yang Kulihat benar di hadapan hadirat-Ku di antara segala orang zaman ini.

7:2Maka dari pada segala binatang yang halal hendaklah diambil olehmu akan tujuh pasang; yaitu jantan betina; tetapi dari pada segala binatang yang haram dua ekor saja, yaitu jantan serta dengan betinanya.

Bagaimana bisa Nuh tahu bagaimana melakukan dan membedakan nya ?

Bukankah sudah jelas bahwa ia tahu perbedaan antara bersih dan binatang-binatang haram, Itu terjadi karena tuhan sudah mengajarkan pada Nuh pada zamannya mengenai perbedaan binatang haram dan binatang halal yg bisa dijadikan makan untuk di konsumsi,

Dengan demikian gugurlah penyataan para kristener tersebut, bahwa binatang haram dan halal yg dapat dikonsumsi hanya ditujukan pada umat Israel.

(kedua)

Pada imamat 11 dan ulangan 14 mengenai hukum tentang keharaman, sering para kristener berdalih bahwa ayat-ayat di PB  telah “me-expire” kan ayat-ayat PL diatas melalui ayat-ayat  berikut ini :

(1). Korintus 6:12. “Segala sesuatu halal bagiku” kata Paulus

(2). 1 Timotius 4:4 “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan satupun tidak ada yang haram.

(3). Markus 7:19. “karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu di buang di jamban? Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal”

Matius 15:17 Tidak tahukah kalian, bahwa yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut, dan kemudian keluar lagi?

(4). Kis10:15 Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.

(5). Rasul Paulus berkata dalam Roma 14:17 “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”

ayat-ayat di Perjanjian Baru inilah yg menjadi dasar andalan bagi kristener sekarang ini untuk menyatakan bahwa babi tidak haram lagi yang sebelumnya telah diharamkan Tuhan melalui Perjanjian Lama.

Mari kita bahas dan sanggah satu persatu dalih para kristener tersebut:

(1.)   1. Korintus 6:12. “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” (kata paulus).

“Segala sesuatu halal bagiku” kata Paulus dalam bahasa yunaninya “Panta moi exestin

Kemudian kata halal dalam ayat tadi ialah “exestin” yang kalau kita lihat kamus bahasa Yunani maka kita dapati ada tiga arti kata tersebut yakni: It is proper, permitted or lawful; it is possible. Bila kita sesuaikan dengan konteks dari ayat itu maka terjemahan “exestin” yang paling tepat ialah “it is possible“. Jadi ayat di atas seharusnya diterjemahkan “Segala sesuatu adalah mungkin bagiku”. Dengan demikian, segala sesuatu adalah mungkin untuk dilakukan oleh Paulus tapi tidak semuanya berguna.

Apakah benar bahwa maksud Paulus sudah menghalalkan segala sesuatu termasuk semua daging?

Rapat Sidang di Yerusalem dimana si Paulus ini hadir pada waktu itu telah memutuskan dengan tertulis supaya bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, daging binatang yang mati dicekik dan dari darah

(Kisah 15:19-21)

15:19Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah,

15:20tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.

15:21Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.”

Jika segala sesuatu halal bagi Paulus mengapa dia menyetujui larangan memakan makanan sejenis di atas tadi (Kisah 15:19-21)….?

Jadi maksud ayat di atas pada  1. Korintus 6:12. adalah mengenai perzinahan, adalah mungkin bagi Paulus untuk melakukan perzinahan tapi tidak melakukannya karena semuanya itu adalah tidak berguna. Ayat di atas bukanlah mengenai daging haram dan daging halal melainkan mengenai nasihat tentang percabulan. Sungguh sangat keliru kalau ayat ini digunakan untuk menghalalkan daging haram karena ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan daging haram atau pun daging halal.

Dengan demikian gugurlah dalih para kristener tersebut, bahwa imamat 11 dan ulangan 14 mengenai hukum tentang suatu yang haram telah menjadi halal, dengan berdasarkan 1.korintus 6:12.

(2.)  1 Timotius 4:4 “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan satupun tidak ada yang haram”.

Ayat ini sering dikutip kristener sebagai alasan untuk memakan semua jenis daging yang haram.

Penekanannya ialah bahwa semua yang diciptakan Allah itu “satupun tidak ada yang haram.” Ayat ini sering digunakan sebagai senjata pamungkas untuk memangkas larangan Allah memakan daging haram. Namun jika kita kaji lebih dalam kita akan dapati bahwa konteks ayat tersebut tidak ada sama sekali hubungannya dengan peraturan tentang daging haram dan daging halal sebagaimana diatur oleh Allah dalam Imamat 11.

Paulus menulis dalam 1 Timotius 4 adalah sehubungan dengan tugas Timotius dalam menghadapi pengajaran sesat. Sedangkan peraturan Allah tentang daging halal dan daging haram bukanlah pengajaran sesat karena itu berasal dari Allah sendiri.

kata “haram” dalam ayat ini tidaklah sama dengan kata “haram” dalam Imamat 11 dan juga yang terdapat dalam Kisah 10:14 dimana Petrus mengaku: “belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”

Kata “haram” dalam 1 Timotius 4:4 berasal dari bahasa yunani “a p o b l h t o n (apoblhton) -nominative, singular, dan neuter. Kata kerjanya ialah a p o b a l l w (apoballw) yang artinya to cast or throw off, cast aside.

Dalam Markus 10:50 kata apoballw diterjemahkan “menanggalkan”. Jadi kata apoblhton yang diterjemahkan “haram” dalam 1 Timotius 4:4 mengartikan sesuatu yang “ditolak, dibuang, dilemparkan dan ditanggalkan” bukanlah “haram” seperti larangan memakan daging haram.

Sedangkan kata “haram” dalam Kisah 10:14 berasal dari kata “koinon” yang arti sebenarnya ialah “umum”. Tentu hal ini mengartikan bahwa ada daging yang khusus dimakan oleh umat Allah yang menuruti Firman Allah yakni daging yang halal dan ada juga daging umum yang dimakan oleh mereka yang tidak mau menuruti

Dengan demikian gugurlah dalih para kristener tersebut, bahwa imamat 11 dan ulangan 14 mengenai hukum tentang suatu yang haram telah menjadi gugur atau telah menjadi halal, dengan berdasarkan 1 Timotius 4:4..

(3).  Markus 7:19. “karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu di buang di jamban? Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal”

Matius 15:17 Tidak tahukah kalian, bahwa yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut, dan kemudian keluar lagi?

Terjemahan Baru

MARKUS 7:19 Sebab yang masuk itu tidak lewat hati, tetapi lewat perut, dan kemudian keluar lagi.”(Dengan kata-kata itu Yesus menyatakan bahwa semua makanan halal.)

KJV:

Mar 7:19 Because it entereth not into his heart, but into the belly,and goeth out into the draught, purging all meats?

Terjemahan dalam Lembaga Alkitab Indonesia Terjemahan Lama :

7:19 Karena itu bukannya masuk ke dalam hati, melainkan ke dalam perut, lalu keluar ke dalam jamban, dengan demikianlah membersihkan segala makanan itu?”

apakah relevansinya dengan tanda kurung atau pun perbedaan warna merah dan hitam. Pada terjemahan Indonesia (lai terjemahan baru) diatas dan bandingkan dengan lai terjemahan lama dan KJV

Dari 3 terjemahan diatas (Mar 7:19 ) Manakah yg menurut anda yang paling benar??

Dengan relevansi dari ayat di atas.. tentu yg paling benar adalah Terjemahan KJV dan AL Kitab LAI Terjemahan lama

Merubah makna menafsirkan dari arti sesungguhnya pada matius 15 dan markus 7 menjadi SEMUA MAKANAN  HALAL  sungguh sesuatu yg sangat FATAL

Kita lanjutkan masih  mengenai markus 7:19. Jika memang para kristener ingin mencari kebenaran, mereka tentu tidak hanya berhenti pada satu ayat tersebut karena apabila kita membaca dari keseluruhan markus 7 tentu kita akan melihat inti yang yang sebenarnya dari apa yang markus 7 itu bicarakan

Markus 7.

7:1. Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. 7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.

7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; 7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.

7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”

7:6 Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.  

7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

7:9 Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.

Dari ayat 7-9 di atas kelas membicarakan  secara gamblang mengenai ADAT ISTIADAT ORANG FARISI yg seolah-olah menjadikan adat istiadat  mereka itu sebagai hukum  yang lebih utama dari HUKUM AGAMA.

Lanjut…

17 Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu.

18 Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,

19  karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.

20 Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,

21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,

22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.

Pasal selanjutnya ygbisa kita ambil dari Markus 7 hanya menegaskan bahwa bukan makanan “yg dimakan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu” yg membuat makanan itu kotor atau najis tapi kata-kata yg kotorlah yg membuat “MULUT NAJIS”

Hal ini Parallel  dengan Matius 15

Matius 15

17 Tidak tahukah kalian, bahwa yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut, dan kemudian keluar lagi?

18 Tetapi yang keluar dari mulut, berasal dari hati; dan itulah yang membuat orang menjadi najis.

19 Sebab dari hati timbul pikiran-pikiran jahat, yang menyebabkan orang membunuh, berzinah, berbuat cabul, mencuri, memberi kesaksian palsu dan memfitnah.

20 Hal-hal itulah yang menyebabkan orang menjadi najis, dan bukan makan dengan tangan yang tidak dicuci.”

Dua pasal tersebut sama-sama membahas pokok yang sama yaitu tentang Perintah Allah dan Adat Istiadat Yahudi. Tidak membahas tentang makanan yang halal dan yang haram. Semua makanan yang diizinkan Tuhan untuk dimakan adalah halal dan daging haram bukanlah makanan karena Tuhan sudah melarang umatNya untuk memakan semua daging haram dalam seperti yg tercantum dalam Imamat 11 dan Ulangan 14.

tidak perlu bingung mengartikan kalimat tersebut sebab kalimat tersebut tidak menyebutkan bahwa “semua daging haram adalah halal”. Sebab daging haram bukanlah makanan. Alkitab tidak pernah menggunakan istilah “makanan haram“. Maksudnya ialah bahwa semua makanan (bahasa Gerika bromata) yang halal tidak menjadi haram walaupun dimakan dengan cara tidak membasuh tangan terlebih dahulu.

Jadi Dengan demikian markus 7:19 dan matius 15:17 tidak bisa di jadikan dalih untuk penghalalan yg telah di haramkan pada imamat 11 dan ulangan 14.

(4). Kisah para rasul 10:15 Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.

 

Pasal di atas bukanlah berbicara tentang daging halal dan daging harammelainkan tentang Petrus dan Kornelius. Petrus adalah orang Yahudi sedangkan Kornelius adalah seorang yang bukan Yahudi. Konteks ayat itu ialah penginjilan kepada orang kafir.

Orang Yahudi menganggap orang yang bukan Yahudi sebagai orang haram. Di zaman Yesus Kristus masih terlihat suatu permusuhan antara orang Yahudi dengan yang bukan Yahudi. Ketika Yesus Kristus meminta minum kepada seorang perempuan Samaria di Sikhar maka permusuhan antara orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi terungkap kembali.

Perempuan Samaria itu berkata kepada Yesus Kristus: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Yohanes 4:9. Dalam Kisah 10:28, 34 dinyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang.

Namun kalau daging yang halal dan yang haram tetap dibedakan oleh Allah. Petrus mengaku belum pernah makan yang haram dan tidak akan pernah karena benda itu terangkat ke langit tanpa menyentuhnya.

Dengan demikian kis 10:15 tidak bisa di jadikan dalih untuk penghalalan yg telah di haramkan pada imamat 11 dan ulangan 14.

(5). Rasul Paulus berkata dalam Roma 14:17 “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”

Jika Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, apakah kita bebas makan apa saja yang kita sukai? …Tidak!!!

Paulus juga berkata: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31.

Apakah Allah dimuliakan jika kita memakan dan menyentuh yang haram?

Paulus lebih lanjut menegaskan: “Muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:20.

Tubuh harus selalu dijaga agar tetap kudus (1 Petrus 1:15).

Dengan demikian roma 14:17 tidak bisa di jadikan dalih untuk penghalalan yg telah di haramkan pada imamat 11 dan ulangan 14.

Melarang orang memakan makanan halal yang diciptakan Allah adalah ajaran setan-setan yang bertentangan dengan ayat di Kejadian 1:29; 2:16-17; 3:18. tapi kalau melarang memakan makanan haram itu bukanlah ajaran setan-setan tetapi ajaran Allah sendiri (Imamat 11; Ulangan 14). Sebaliknya ajaran yang mengatakan bahwa daging binatang haram boleh dimakan, justru itulah ajaran setan-setan karena bertentangan dengan ajaran Allah. Karena Allah sangat jelas membedakan antara daging binatang yang halal dan daging binatang yang haram. Lagi pula belum pernah ditemukan dalam satu ayat Alkitab yang mengatakan bahwa Yesus dan murid-muridNya pernah memakan daging binatang yang haram alias babi atau babi panggang kesukaan kristener.

Bahkan Petrus tegas mengaku dengan berkata: “Aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Setelah Allah memaparkan larangan memakan daging haram, Dia berfirman: “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi…jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.” Imamat 11:44-45.

Untuk itu seharusnya kristener tidak boleh berspekulasi dengan mengatakan bahwa semua daging haram boleh dimakan. Allah telah mengajarkan mana daging halal dan mana yang haram. Dengan demikian, semua ajaran yang bertentangan dengan perintah Allah adalah ajaran setan-setan yang menyesatkan