Oleh : Agus Junaedi. M.Ag.

(Penggiat Kajian Fiqhul Waqi)

A Total Solar Eclipse over Turkey
Credit & Copyright:
Stefan Seip

Gerhana bulan atau matahari (khusuf/ kusuf) bukanlah kejadian yang dianggap aneh oleh manusia jaman sekarang.  Namun khusus bagi umat Islam (kaum muslimin) , kejadian gerhana bulan maupun gerhana matahari ada beberapa perkara yang mesti dilakukan yang berhubungan dengan syari’at (ibadah),  menurut sebagaian fuqaha (ahli hukum Islam) hukumnya sunah mu’akkad (lebih utama dilakukan), diantaranya ada syari’at shalat gerhana (khususf /kusuf) . Mengenai  dasar hukum tentang beberapa syari’at yang mesti dilakukan oleh kaum muslimin pada saat terjadi gerhana itu, tidak disebutkan secara langsung dalam al-Qur’an, namun berdasarkan hadits-hadits yang shahih.

Banyak hadits yang menyebutkan tentang hal tersebut , dalam kajian ini, penulis hanya menyebutkan dua hadits yang  yang bersumber dari ‘Aisyah r.a dan Abu Musa r.a  berikut ini ;

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

( رواه البجاري : كتاب : الكسوف: الباب : الصدقة في الكسف :991)

” Sesungguhnya (gerhana) matahari serta (gerhana) bulan, merupakan dua “tanda” dari berbagai ” tanda” dari  Allah. Gerhana matahari atau bulan (kejadiannya) bukan diakibatkan meninggalnya seseorang atau kelahiran seseorang, kalaulah kalian mendapatkan gerhana, maka segeralah berdo’a kepada Allah,  agungkanlah Dia (takbir), shalat, kemudian bersidekahlah. ( H.R. Bukhari, Kitab kusuf, bab sedekah ketika gerhana ,no. hadist 991)

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ فَأَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ قَطُّ يَفْعَلُهُ وَقَالَ هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

( رواه البجاري : كتاب : الكسوف : الباب : ذكر في الكسف : 1004)

Dari  Abu Musa, dia berkata: ”  Saat terjadi gerhana matahari, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri (terlihat) khawatir terjadi kiamat. Beliau berangkat kemesjid, kemudian shalat gerhana, berdiri lama sekali, begitu juga saat ruku dan sujud yang belum pernah aku saksikan. Setelah selesai shalat gerhana Beliau bersabda, ” tanda-tanda ini yang Allah kirim, kejadiannya  (gerhana) bukan meninggalnya seseorang, atau lahirnya seseorang. Tetapi  kejadian ini merupakan peringatan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya. Maka tatkala kalian menyaksikan gerhana walaupun sedikit,  bersegeralah, dzikir kepada-Nya, berdo’a, serta minta ampunan. ( H.R. Bukhari, Kitab gerhana, bab Dzikir ketika gerhana ,no. hadist 1004 )

Dari dua hadits tersebut, ada frasa hadits “آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ” penulis memberikan terjemah terhadap frasa itu dengan ” dua tanda dari tanda-tanda Allah “.  Kata “آيَاة ” merupakan lafadz musytarak (memiliki banyak arti) diantaranya ; tanda, petunjuk, bukti, pengajaran, urusan yang besar, mukjizat, kumpulan manusia . Oleh karenanya kata  “آيَاة ” diberi arti ” tanda” (lambang). Gerhana merupakan tanda (kode/lambang) dari Allah buat manusia. Oleh karenanya kejadian gerhana dapat dilihat maksudnya dengan pendekatan ilmu petanda (semiotika).

Semiotika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tanda serta segala hal yang  terkait dengan tanda itu sendiri  seperti;  kegunaan, hubungan dengan tanda-tanda lain, pengirim tanda serta penerima tanda. Kalau kajian tanda menyangkut penggolongan tanda, ,hubungan dengan tanda-tanda lain, serta dengan cara penggunaanya, dikaji dalam  sintaksis semiotik. Sedangkan jika kajian lebih di titik beratkan pada  hubungan tanda dengan yang diacunya (petunjuk) serta maksud tanda, dikaji dalam  semantic semiotik.  Sedangkan jika tanda dikaji  secara mendalam  mengenai hubungan tanda  antara yang mengirim dan yang menerima, dikaji dalam   pragmatic semiotik.

Dilihat dari kegunaan tanda, sekurang-kurangnya ada dua guna;

  1. Sebagai  informatif seperti, air mendidik memberikan informasi bahwa air sangat panas, besi dibakar sampai membara memberikan informasi bahwa api sangat panas, ayam berkokok sebagai informasi subuh tiba, kumis sebagai informatif tentang kelaki-lakian dll.
  1. sebagai  alat komunikasi antara pengirim dan penerima seperti, mengangukkan dagu tanda setuju, melambaikan tangan tanda untuk segera menghampiri, tekenan (tanda tangan) tanda setuju, dll.

Kalaulah gerhana dikaitkan dengan teori diatas, maka gerhana memiliki dua guna;

1.            gerhana merupakan informatif bagi manusia yang meihat dan mengalami gerhana

2.            gerhana sebagai alat komunikasi, antara Allah sebagai pengirim tanda disatu sisi dan  sisi manusia sebagai penerima tanda.

Dari dua teori ini, maka gerhana menjadi sesuatu bahan pemikiran;,

1.      Informasi apa yang mesti diketahui oleh manusia dari kejadian gerhana itu ?

2.      Pesan apa yang mesti diketahui manusia ketika mengalami gerhana ?

Untuk menjawab pertanyaan yang pertama, bisa digali  hadits riwayat Abu Musa, pada kalimat  ” فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ ” Nabi berdiri khawatir terjadi kiamat”. Dari teks ini, mengisyaratkan bahwa Nabi mengetahui sesungguhnya gerhana adalah merupakan salah satu dari sekian tanda kiamat, atau akan adanya bencana atau huru-hara besar, perkara ini dikuatkan oleh teori fisika moderen mengenai gaya tarik antar planet. Kalau planet-planet atau benda-benda angkasa ada pada posisi sajajar bisa  mengakibatkan  gaya tarik antar planet labil, yang besar kemungkinan benda-benda angkasa yang ukurannya lebih kecil akan tertarik kepada benda angkasa yang lebih besar, yang bisa jadi akan adanya bencara besar kalau sudah sejalan dengan kehendak Allah, maka inilah yang disebut dengan disebut kiamat kubra, atawa sekurang-kurangnya pada beberapa tempat akan terjadi bencana, kerusuhan, huru-hara atau sejenisnya, misalnya ada angin topan, badai dilaut dan lain-lain,. Hal ini juga terungkap pada  teks

” لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ,

Kedua bisa dilihat pada kaهfiyat shalat husuf yang tidak biasa  sebagaimana pada shalat umumnya yakni adanya dua ruku dalam satu yang menjadi  tanda segera untuk mempercepat shalat  sebelum kiamat datang atau sebagai shalat terahir (salat wada).

Pertanyaan kedua,  pesan apa yang terdapat dalam gerhana, hal ini pun dapat dikaji dari hadits diatas ;

  1. kalimat  ” ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا “
  2. frasa ” وَتَصَدَّقُوا “
  3. frasa ” وَاسْتِغْفَارِهِ “

Tiga hal  ditampilkan dalam bentuk kata kerja (verb) ” fi’il”, namun demikian jika dikaitkan dengan teori diatas, kata kerja itu sesungguhnya menunjukan keterangan waktu, singkatnya ;

  1. Ketika terjadi gerhana ia merupakan “waktu mustajab buat berdo’a” saatun mustajabun lidu’a”
  2. Ketika gerhana terjadi ia merupakan “waktu yang paling baik buat bersidekah” sa’atun khoerun lishodaqah”
  3. Ketika gerhana terjadi merupakan “waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah yang akan mengampuni dosa-dosanya ” “sa’atun aqrabu ‘abdu warabuhu”

Singkatnya tiga perkara inilah yang jarang dimanfaatkan oleh manusia secara umum terkhusus umat islam sehingga setan dengan mudah membuat makar dengan mengajarkan mitos-mitos tentang gerhana, akibatnya dikalangan umat islam banyak yang tidak peduli  terhadap kejadian gerhana alih-alih  mereka berpegang kepada pendapat para fuqoha bahwa shalat gerhana  hukumnya sunat (dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa) . inilah yang disinyalir oleh Allah dalam satu firman-Nya  ;

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

ٍsesungguhnya kebanyakan manusia lalai terhadap tanda-tanda dari Kami.(Yunus :92)

 

Singkatnya gerhana dilihat dari perspektif ilmu semiotika  adalah;

 

  1. Gerhana merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda akan datangnya bencana besar atau kiamat, kerusuhan, huru-hara;

 

  1. Pesan yang dibawa gerhana adalah ;

Saatun  mustajabun lidu’a ( waktu yang dekat terkabulnya do’a)

Saatun khairaun lishodaqah (waktu yang paling baik untuk bersidekah)

Saatun aqrabu baina abdun wa rabuhu (waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Khaliknya) atau waktu yang paling baik dalam bertaubat

 

Oleh karena  wahai kaum muslimin janganlah kita lalai pada peristiwa-peristiwa gerhana.

 

Wallahu’alam !!!!


Hadits  riwayat A’isyah ini relatif panjang,,  penulis hanya mencatat sebagian dari matannya, sebab tentang kaifiyat    gerhana dalam matan hadits tersebut, tidak akan dibahas.

Daud al-Aththar, Ilmu Al-Qur’an (Bandung. Pustaka Hidayah, 1994) , kaca 176.

Muhammad Amin Summa, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an (1) ( Jakarta. Pustaka Firdaus, 2000), kaca 68.