Beda Demam Dengue dengan DBD
KOMPAS/Wisnu Widiantoro
Seorang ibu menemani anaknya, Adi, yang dirawat di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat karena terserang penyakit Demam Dengue (DD), Selasa (24/2).

KOMPAS.com – Meski perjalanan awal penyakit ini hampir mirip, namun dua penyakit infeksi virus dengue ini memiliki tingkat kegawatan berbeda.

Demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Infeksi virus dengue menyebar dengan cepat dan dapat menyerang banyak orang pada masa epidemik. Kondisi lebih parah dialami oleh anak-anak.

DBD merupakan bentuk yang lebih parah dari demam dengue karena perdarahan dan syok terkadang dapat terjadi yang dapat berakibat fatal, yakni kematian. Menurut dr.Alan Tumbelaka, Sp.A (K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Jakarta, gejala penyakit demam dengue atau DBD secara umum hampir mirip. “Pada fase awal, dua penyakit ini tidak bisa dibedakan,” katanya.

Secara umum, penyakit demam dengue dan DBD memiliki ciri.

Demam dengue
– Demam akut selama 2-7 hari, disertai sakit kepala, nyeri otot dan sendi
– Bisa disertai penurunan trombosit.
– Panas akan turun pada hari ketiga atau keempat.
– Tingkat penyembuhannya lebih baik.

DBD:
– Demam tinggi mendadak, disertai nyeri kepala, nyeri di bagian belakang bola mata, terkadang juga nyeri perut.
– Ada tanda ruam atau bintaik merah di kulit
– Tidak disertai dengan batuk atau sakit di tenggorokan.
– Trombosit dan leukosit turun (kurang dari 100.000)
– Terjadi peningkatan hematokrit (naik 20 persen dari jumlah normal).
– Perdarahan pada jaringan lunak (hidung, mulut, atau gusi).
– Terjadi perembesan plasma. Makin bocor bisa menyebabkan syok.

Ditambahkan oleh dokter Alan, penentuan penyakit demam dengue atau DBD baru bisa dilakukan pada hari ketiga lewat gejala klinis ditambah pemeriksaan penunjang. “Diagnosis DBD bisa ditegakkan bila memenuhi dua kriteria klinis dan penurunan trombosit serta peningkatan hematokrit,” paparnya.