Klenteng dan vihara ada bedanya. Namun karena kebudayaan Tionghoa termasuk satu kebudayaan yang sekular, maka terkadang ada sinkretisme di kalangan bawah menjadikan aliran-aliran agama yang sesuai dengan pandangan hidup rakyat dapat hidup secara bersamaan. Ini dinamakan kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa, mengambil konsep ritual Taoisme, filsafat kehidupan Konfusianisme dan konsep kehidupan setelah mati dari Buddhisme.

Kelenteng dalam bahasa Mandarin disebut miao, dialek Hokkian disebut bio. Bio ini sejarahnya sudah sangat lama, hampir sepanjang umur kebudayaan Tionghoa itu sendiri yang 5000 tahun. Jauh sebelum Konfusius lahir, kebudayaan Tionghoa sudah mengenal penghormatan kepada leluhur, cuma sampai zamannya Dinasti Zhou, Konfusius menjadikannya sebagai satu konsep dalam ajarannya.

Bio ini adalah pusat kehidupan religius di dalam kebudayaan Tionghoa, lebih kurang sama dengan God Temple di Romawi dulu, bedanya cuma God Temple tidak memuja leluhur, namun bio dikonsentrasikan untuk memuja leluhur. Sebelum zaman Zhou, sewaktu Tiongkok belum dipersatukan, bio ini dilambangkan sebagai pusat dari kota atau pemukiman bahkan negara di mana bio tersebut berada. Bila bio ini dirusak, maka tamatlah negara tersebut. Maka ada juga sebutan “du” untuk bio yang punya fungsi lain sebagai perlambang ibukota negara.

Bio yang dipunyai penguasa (kaisar) namanya Tai Miao (thai bio). Biasanya terdapat di dalam istana, juga untuk menghormati leluhur. Bio juga adalah sebagai perlambang status sosial seseorang di zaman feodalisme dulu seperti di zaman Zhou, ada istilah “Kaisar 7 bio, Bangsawan 5 bio, Pejabat besar 3 bio, Pejabat kecil 1 bio, orang biasa tidak punya”.

Vihara dalam bahasa mandarin disebut si (dibaca se), atau si dalam dialek Hokkian. Si ini sebenarnya baru berarti vihara sejak Dinasti Han. Sebelumnya, si berarti rumah tempat tinggal pejabat. Adalah Kaisar Han Ming-di memerintahkan untuk mengambil kitab suci Buddhis dari Tianzhu (skrg India) dan menyimpannya di sebuah rumah pejabat di Luoyang. Kemudian rumah tersebut dipugar dan diganti namanya menjadi “Baima Si” atau “Vihara Kuda Putih”. Ini vihara pertama di Tiongkok pada tahun 75 M. Vihara tersebut menjadi pusat perkembangan agama Buddhis di zaman Han dan mulailah penggunaan kata si sebagai vihara.

Namun si ini juga digunakan sebagai kata umum untuk tempat peribadatan dan tidak terbatas pada vihara saja. Misalnya mesjid juga disebut sebagai Qingzhen Si. Qingzhen adalah sebutan kuno bahasa mandarin untuk agama Islam.

Munculnya Taoisme dan Buddhisme di Tiongkok pada zaman Han menyebabkan mulai munculnya konsep  manusia dapat menjadi dewa-dewi di dalam kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa. Leluhur yang mempunyai jasa dan kontribusi yang sangat besar dapat naik statusnya menjadi dewa-dewi dan bukan hanya leluhur semata. Dewa-dewi ini dapat dihormati secara terbuka dan luas oleh semua orang tanpa terkecuali dan tidak hanya terbatas kepada keturunan sang dewa-dewi. Ini menyebabkan pergeseran peranan dan fungsi bio menjadi satu tempat peribadatan.

Karena ini, muncul istilah ci (dialek Hokkian : su) yang lebih spesifik hanya untuk bio yang menghormati leluhur yang lebih bersifat pribadi. Zhonglie Ci misalnya, adalah tempat untuk menghormati para pahlawan nasional yang berjasa pada negara lepas dari warna religius. Atau Jiangxing Citang yang adalah tempat untuk menghormati leluhur marga Jiang.