Bismillahirrahmanirrahim

The Ibāī movement, Ibadism or Ibāiyya (Arabic: الاباضية al-Ibāḍiyyah) adalah sebuah bentuk Islam yang berbeda dari Sunni dan Syiah. Penganut Ibadi dominan di Oman (mencapai 75 %) dan Zanzibar, Tanzania. Ada juga kaum Ibadi di antaranya Pegunungan Nafusa di Libya, Mzab di Aljazair, Pulau Djerba di Tunisia.

Dipercaya sebagai salah satu mazhab paling awal, dikatakan bahwa telah didirikan sejak kurang dari 50 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Beberapa sejarawan berpikir bahwa mazhab ini dikembangkan dari sekte Islam abad ketujuh yang dikenal sebagai Khawarij.

Asal Mula

Mazhab ini mengambil namanya dari Abdullah ibn Ibadh at-Tamīmī. Para pengikut sekte ini, walaupun demikian, menyatakan pendiri mereka adalah Jabir ibn Zaid al-‘Azdi dari Nizwa, Oman.

Pandangan

Komunitas Ibadi secara umum dianggap sebagai orang-orang konservatif, sebagai contoh Ibadiyya menolak praktik doa qunut ketika shalat.

Secara tradisional, kaum Muslim Sunni menganggap bahwa kaum Ibadi adalah orang-orang Khawarij, tapi kaum Ibadi menolak penunjukan ini. Kaum Ibadi menganggap kaum Muslimin yang lain bukan sebagai kafir  (seperti kebanyakan kebiasaan kaum Khawarij), akan tetapi sebagai kuffar an-ni’ma “orang-orang yang menolak karunia Allah”, walaupun sekarang sikap ini telah dilonggarkan.

Mereka percaya bahwa sikap seorang yang beriman kepada orang yang lain diekspresikan dalam tiga kewajiban agama:

  • walāyah: persahabatan dan persatuan dengan kaum yang beriman, dan dengan para Imam Ibadi.
  • barā’ah: pemisahan diri (tapi bukan permusuhan) terhadap orang-orang kafir dan para pelaku dosa, dan orang-orang yang ditakdirkan masuk Neraka.
  • wuqūf: reservasi terhadap yang mempunyai status yang tidak jelas.

Tidak seperti Kaum Khawarij, Ibadi telah menolak praktik tidak berasosiasi dengan Muslim lainnya

Perbedaan-perbedaan doktrin dengan kaum Sunni

Ibadis juga memiliki beberapa doktrin yang berbeda dengan Islam Sunni, utamanya:

  • Kaum Muslimin tidak akan melihat Allah pada Hari Penghakiman. Hal ini diambil dari Al Qur;an dimana Nabi Musa diberitahu Allah ketika beliau ingin melihatNya, “Engkau tidak akan melihatKu.” Hal ini berbeda  dengan kepercayaan dasar Sunni bahwa Kaum Muslimin akan melihat Allah dengan mata mereka pada Hari Penghakiman[2]. Hal ini cocok dengan keyakinan Muslim Syiah. Imam Ali berkata  “Mata tidak dapat melihatNya, tetapi Dia akan dapat dilihat oleh realitas keimanan” Nahj al-Balagha.
  • Barangsiapa yang masuk Neraka, maka dia akan kekal di dalamnya. Hal ini berbeda dengan keyakinan Sunni bahwa kaum Muslimin yang masuk Neraka akan hidup di dalamnya selama waktu yang ditetapkan padanya, untuk menyucikan mereka dari segala kekurangannya, dan setelah itu mereka akan masuk Surga. Kaum Sunni juga percaya, bahwa orang-orang yang tidak percaya kepada Keesaan Tuhan anpa menyekutukanNya, akan tinggal dalam Neraka selamanya.
  • Al Qur’an diciptakan oleh Allah pada beberapa waktu tertentu. Kaum Sunni menekankan bahwa Al Qur’an tidak diciptakan, seperti yang dicontohkan melalui penderitaan  Imam Ahmad ibn Hanbal selama Mihna mempertahankan bahwa Al Qur’an bukan makhluk. Banyak dari kaum Syiah juga menekankan bahwa Al Qur’an diciptakan, salah satu dari banyak kepercayaan teologi yang sama dengan paham Mu’tazilah.
  • Pandangan terhadap sejarah Islam dan kekhalifahan

 

 

Kaum Ibadi setuju dengan Kaum Sunni dalam pengakuan terhadap Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab sebagai Khulafaur Rasyidin. Mereka menganggap Uthman ibn Affan sebagai orang yang telah memperkenalkan bid’ah ke dalam Islam, dan menyetujui pemberontakan yang menggulingkan beliau . Mereka juga mengakui bagian pertama kekhalifahan Ali, dan seperti Syiah, tidak menyetujui pemberontakan Aisyah melawan beliau dan juga tidak menyetujui pemberontakan Muawiyah. Meskipun, mereka menganggap penerimaan proses pengikutsertaan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan Ali pada Perang Shiffin melawan pemberontak-peberontak Muawiyah sebagai tidak Islami dan sebagai memberikan beliau tidak pantas untuk imamat, dan mereka mengutuk Ali atas pembunuhan kaum Muslimin pada an-Nahr dalam Perang Nahrawan.

Dalam keyakinan mereka, Khalifah sah kelima adalah Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Semua Khalifah dari Muawiyah seterusnya dianggap sebagai tiran kevuali Umar ibn Abdul Aziz, pada opini yang berbeda. Akan tetapi, berbagai pemimpin Ibadi kemudian dihargai sebagai para imam yang benar, termasuk Abdullah ibn Yahya al-Kindi dari Arabia Selatan dan imam-imam dari dinasti Rustamid di Afrika Utara.

Padangan terhadap hadits

Kaum Islam Ibadi (ditemukan terutama di kerajaan Arabia Oman) menerima banyak hadits dari Sunni, walau yang lain juga ditolak, dan menerima beberapa hadits yang tidak diterima oleh Sunni. Yurispundensi Ibadi berdasar hanya atas hadits yang diterima Kaum Ibadi, yang jumlahnya far less daripada yang diterima Kaum Sunni. Beberapa figure pendiri kepercayaan Ibadi – utamanya Jabir ibn Zayd – diperhatikan dalam pencarian hadits mereka, dan Jabir ibn Zayd diterima sebagai periwayat yang dapat diandalkan oleh cendekiawan Sunni maupun Ibadi.

Kumpulan hadits yang utama diterima oleh Ibadi adalah al-Jami’i al-Sahih[dead link], juga disebut Musnad al-Rabi ibn Habib, seperti yang disusun kembali oleh Abu Ya’qub Yusuf b. Ibrahim al-Warijlani. Kebanyakan hadits tersebut dikabarkan oleh Kaum Sunni, walaupun beberapanya tidak. Aturan-aturan digunakan untuk menentukan kesahihan sebuah hadits yang diberikan oleh Abu Ya’qub al-Warijlani, dan  secara luas serupa dengan yang digunakan Kaum Sunni: mereka mengkritik beberapa Sahabat Nabi Muhammad, mereka percaya bahwa beberapa hadits diubah setelah masa kekuasaan dua khalifah pertama. Ahli hokum Ibadi menerima periwayatan hadits perkataan para sahabat sbagai sumber ketiga untuk peraturan resmi, di samping Al Qur’an dan hadits yang berhubungan dengan perkataan Nabi Muhammad.

Terjemahan Bebas Galih Saputra Duke of Merovingian  yang bersumber dari http://en.wikipedia.org/wiki/Ibadi